Denpasar (Antara Bali) - Ahli onkologi Rumah Sakit Umum Pusat Sanglah, Denpasar, dr Wayan Sudarsa SpB Onk, berharap penderita kanker payudara ditanggung Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS) karena biaya perawatan dan pengobatannya sangat mahal.

"Mudah-mudahan tahun depan ketika pemerintah sudah punya BPJS bisa menanggung biaya perawatan dan pengobatan kanker payudara," katanya dalam seminar tentang Kewaspadaan Kanker Payudara di Denpasar, Sabtu.

Menurut dia, kanker payudara merupakan penyakit yang bisa menyerang siapa saja. Bahkan, di Provinsi Bali sekitar 80 persen penderita kanker payudara tingkat keparahannya mencapai stadium III hingga stadium IV.

"Kami selalu aktif menyosialisasikan pencegahan dini penyakit itu, termasuk dengan memberikan edukasi kepada tenaga profesional, seperti dokter dan tenaga perawatan lainnya. Apalagi Oktober ini merupakan bulan kewaspadaaan kanker payudara," ujar dokter spesialis bedah tumor dan kanker itu.

Sudarsa menjelaskan bahwa jika penderita kanker payudara itu sudah mencapai stadium III dan stadium IV, maka kemungkinan besar satu-satunya "mahkota" kecantikan perempuan itu harus diangkat.

"Oleh sebab itu, periksakanlah sejak dini dan jangan menunggu gejala-gejala penyakit sudah mulai muncul," katanya.

Dia juga mengemukakan bahwa faktor risiko kanker payudara sangat mungkin terjadi pada wanita yang pernah menderita kanker, memiliki riwayat keluarga penderita kanker seperti yang dialami aktris Hollywood Angelina Jolie, pernah memiliki tumor jinak jenis ADH/ALH, berumur, hamil pertama usia lebih dari 31 tahun dan pernah mengikuti program KB.

Selain itu perempuan yang memiliki gaya hidup tidak sehat, seperti kelebihan berat badan, perokok, pencandu alkohol, terkena radiasi dan kelebihan konsumsi pestisida juga berisiko terkena penyakit mematikan itu.

Gejala kanker payudara dapat dilihat dari benjolan pada payudara yang tidak berasa nyeri, perubahan bentuk dan ukuran payudara, perubahan pada kulit payudara, keluar cairan tidak wajar dari puting, perubahan warna puting dan bengkak pada lengan.

"Kanker payudara ini bisa menyebar ke paru-paru, hati dan tulang, kalau tidak segera diatasi," kata Sudarsa dalam seminar yang diselenggarakan produsen alat kesehatan Philips itu.

Selain mencegah beberapa risiko tersebut, lanjut dia, kanker payudara dapat ditangani melalui operasi bedah, radiasi, kemoterapi, dan terapi hormonal.

"Kalau sudah pada stadium III, penanganannya membutuhkan biaya besar dalam rentang waktu enam hingga delapan bulan. Untuk satu kali kemoterapi saja butuh biaya sedikitnya Rp20 juta," katanya.

Dia mengharapkan kaum perempuan berusia 40 tahun ke atas melakukan deteksi dini dengan menggunakan teknologi mamografi atau pemeriksaan kelenjar dengan menggunakan sinar X minimal dua tahun sekali, sedangkan perempuan berusia 50 tahun ke atas satu tahun sekali.

Seminar itu juga diisi dengan testimoni penderita kanker payudara yang telah menghabiskan biaya hingga ratusan juta rupiah untuk operasi dan perawatan rutin.

Sementara itu, PT Philips Indonesia memfasilitasi para penderita kanker dan tumor di Indonesia untuk saling berinteraksi melalui laman www.spotityourself.com.

"Situs tersebut dapat dimanfaatkan untuk konsultasi atau `sharing` pengalaman tentang kanker dan tumor, termasuk kanker payudara," kata Manajer Komunikasi PT Philips Indonesia Chatrine Siswoyo. *

Pewarta: Oleh M. Irfan Ilmie

Editor : M. Irfan Ilmie


COPYRIGHT © ANTARA News Bali 2013