Enam pejabat Kementerian Pertanian dan Perikanan Republik Demokratik Timur Leste  belajar tentang pertanian organik serta melakukan pengenalan, aplikasi dan edukasi teknologi Effektive Microorganisms 4 (EM4) di Pak Oles Green School, Jalan Waribang, Kesiman, Denpasar Timur.

Manajer Pak Oles Green Schoo Ir Koentjoro Adijanto dalam keterangan tertulisnya di Denpasar, Senin, mengatakan keenam pejabat tersebut melakukan kegiatan memanfaatkan EM untuk berbagai bidang meliputi  pertanian, peternakan, perikanan dan limbah pada 7 November 2022.

Pria yang biasa disapa Pak Yoyok itu sekaligus memandu pejabat tersebut. "Mereka belajar mengaplikasikan teknologi mudah, murah, hemat energi, ramah lingkungan dan berkelanjutan, dengan harapan dapat diterapkan dalam berbagai aspek kehidupan di negara asalnya, Timor Leste," ujarnya.

Kunjungan pejabat Kementerian Pertanian dan Prikanan sekaligus belajar ke  Kebun Tanaman Herbal Pak Oles   dalam rangka Pelatihan Internasional Ubinan Sayur dan Buah, kerja sama Kementerian Pertanian dan Perikanan Timor Leste dengan  Magister Pertanian Lahan Kering Fakultas Pertanian Universitas Udayana.

Pak Oles Green School yang digagas Direktur Utama PT Songgolangit Persada, Dr Ir Gede Ngurah Wididana, M.Agr yang akrab disapa Pak Oles pada tahun 2009 atau 13 tahun yang silam adalah  konsep pertanian perkotaan di atas hamparan  lahan seluas 40 are.

Pertanian organik di pinggiran Kota Denpasar  untuk melakukan pembelajaran kepada masyarakat, khususnya  kalangan pelajar dan generasi muda tentang pertanian ramah lingkungan  dengan sentuhan teknologi Effective Microorganisms (EM4)  dari Jepang.

Pak  Oles Green School, sebuah tempat yang mengoleksi lebih dari 100 jenis tanaman obat yang berkhasiat sebagai tempat edukasi tentang pertanian organik  disebut Bokashi Farm  yakni  pertanian organik  menggunakan pupuk bokashi sentuhan teknologi EM.

Dalam kawasan kebun pertanian organik tersebut  dikembangkan pelayanan restoran dan tempat pelatihan.  Pelatihan berlangsung sehari untuk belajar dan praktek  langsung  mengenai pertanian organik menggunakan  EM.
                     
Kotoran sapi tidak bau

Sementara I Nyoman Suwandi (58 tahun), karyawan Pak Oles Green School,  yang  kesehariannya  bertugas merawat dan memelihara empat ekor sapi betina (induk) di lokasi tersebut  menjelaskan kepada tamu dari Timor Leste,  bahwa dirinya selalu  menggunakan EM4 peternakan produksi PT Songgolangit Persada.

EM4 peternakan itu dicampurkan untuk minuman ternak sapi, disiramkan pada rumput dan hijauan makanan ternak sebelum diberikan kepada ternak piharaannya, dicampur dengan air untuk minum, memandikan ternak, menyiram lantai kandang dan menyiram tumpukan kotoran sapi sehingga kandang dan lingkungan sekitarnya bersih, tidak menimbulkan bau dan pencemaran.

Ia mengaku mempunyai pengalaman selama puluhan tahun menggunakan EM4 untuk dicampurkan dengan pakan ternak, sehingga ternak menjadi rakus makan dan berat badannya cepat bertambah.

Ayah dua putra dan seorang putri itu memelihara empat ekor sapi betina induk, bahkan pernah mencapai 10 ekor sapi induk untuk pembibitan.

Semua proses pemeliharaannya menggunakan EM dicampur dengan air mulai untuk minum, dicampur dengan pakan ternak, memandikan ternak, menyemprot alas kandang dan tumpukan kotoran sehingga tidak menimbulkan bau dan pencemaran.

Nyoman Suwandi mengharapkan kepada pejabat dari Kementerian Pertanian Timur Leste itu  untuk menggunakan EM4 peternakan, karena telah terbukti dan kenyataannya sudah ada seperti yang dilakukan dan dialaminya sendiri.

Selain itu juga menggunakan Minyak Rajas sehingga semua ternak sapi piaraannya bulunya mengkilap, kulitnya bersih, terhindar dari hinggapan lalat, padahal punggung sapi pada umumnya selalu diinggapi kerumunan lalat.

Sedangkan EM4 pertanian mempunyai manfaat untuk memperbaiki sifat fisik, biologi tanah, meningkatkan produksi tanaman, menjaga kestabilan produksi dan menyediakan unsur hara yang dibutuhkan tanaman.

EM4 perikanan dan tambak mempunyai manfaat untuk memfermentasi sisa pakan, kotoran udang di dasar tambak, mengurai gas- gas amoniak, metan dan hydrogen sulfida, meningkatkan oksigen terlarut, air menjadi bersih sehingga tidak diperlukan penggantian air secara berulang-ulang.

Belajar Membuat FPE

Pak Yoyok juga sempat mengajarkan kepada pejabat Kementerian Pertanian dan perikanan Timor Leste untuk membuat  ekstrak tanaman obat (FPE) ramah lingkungan memanfaatkan berbagai jenis bahan berupa daun maupun umbi-umbian yang berkhasiat obat seperti  kunyit, jahe, bawang merah, cabai, daun  bluntas, sere dan daun jeruk yang semuanya dicinjang (dipotong-potong) menjdi bagian-bagian kecil.

Semakin banyak bahan tanaman obat atau rempah-rempah yang digunakan FPE yang  dihasilkan semakin bagus dan bermutu untuk memberantas hama tanaman, khususnya di sekitar lingkungan pemukiman tanpa mengganggu masyarakat lingkungan sekitarnya.

Semua bahan setelah menjadi bagian-bagian kecil dimasudkan ke dalam satu tempat lalu difermentasi dengan  EM4 selama dua minggu. Umbi-umbian dan daun yang berkhasiat obat itu setelah difermentasi mengandung antioksidan begitu disemprotkan ke tanaman dapat mengatasi berbagai serangan hama.

Tanaman pekarangan yang merupakan apotik hidup yakni untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari dalam rumah tangga menjadi sehat dan segar seperti sayur mayur, cabai dan lain-lainnya akan  tetap aman untuk dikonsumsi kapan saja.

Penggunaan FPE untuk tanaman pekarangan itu tidak mencemari lingkungan sekitarnya. Namun pembuatan FPE untuk pengobatan ternak atau kepentingan lainnya, prosesnya dengan cara lain lagi, meskipun bahan bakunya ada yang sama.

Keenam pejabat dari Timor Leste  selesai mengikuti pelatihan Internasional Ubinan Sayur dan Buah di Bali sebelum kembali ke negaranya akan kembali lagi berkunjung ke Pak Oles Green School untuk melihat hasil kreativitas FPE.
 

Pewarta: Ni Luh Rhismawati

Editor : Adi Lazuardi


COPYRIGHT © ANTARA News Bali 2022