Denpasar (Antaranews Bali) - Siswa-siswi dari SMAN 1 Kuta Selatan, Kabupaten Badung, dan SMKN 3 Sukawati, Kabupaten Gianyar mementaskan kesenian Kecak yang sarat makna dalam ajang Bali Mandara Nawanatya III di Taman Budaya, Denpasar, Minggu malam.

Sebagai penampil pertama, SMA Negeri 1 Kuta Selatan tampil memukau dengan garapan kecak yang bertajuk Magegobog. "Magegobog ini sebuah tradisi yang berkembang di Desa Bualu, Badung jadi karena ini salah satu keunikan dari daerah kami, maka Magegobog ini jadi pilihan," kata I Wayan Pradnya Pitala selaku koreografer sekaligus komposer garapan disela-sela pementasan tersebut.

Menurut penuturan Pradnya, Magegobog sendiri merupakan tradisi masyarakat Desa Adat Bualu yang dilaksanakan serangkaian untuk menyambut Tahun Baru Saka.

Prosesi ritual Magegobog ini pun menggunakan "sambuk, api takep, papah, bawang, mesui, obor, dan prakpak danyuh" sebagai sarana utama dan arak-arakkan sebagai sarana pendukung.

Dalam perjalanan alur garapan, totalitas memang tak lekang ditunjukkan SMA Negeri 1 Kuta Selatan. Para siswa yang terlibat pun amat piawai melakukan "fire dance".

Sontak teriakkan penonton memuncak, manakala "fire dancer" pun mempercepat tempo gerakannya. Vokal dari garapan Kecak ini pun turut menjadi sorotan karena terdengar jelas dan bersemangat.

"Untuk menciptakan garapan ini menghabiskan waktu yang lama dan panjang, dan tidak hanya saya saja, semua elemen warga sekolah harus terlibat membantu," ujar Pradnya.

Tak hanya Pradnya, dalam proses penciptaan koreo dirinya turut dibantu oleh I Komang Adi Pranata dan untuk komposer, I Wayan Yogiswara Dasa turut menyukseskannya.

Garapan yang tak kalah menarik untuk disimak yakni dari SMK 3 Sukawati, Gianyar. Sekolah menengah kejuruan yang dulunya dikenal dengan nama Kokar/SMKI ini pun mengangkat kisah Cupak Grantang dengan judul I Cupak Raja Buung.

"Kisah Cupak Grantang ini sebenarnya banyak sekali segmen yang bisa diangkat, kami putuskan untuk memilih ini sebab unsur-unsur misalnya hiburan dan pelajarannya lengkap," kata I Ketut Budiarta selaku pembina garapan.

 I Grantang yang disukai oleh seorang putri raja bernaman Ida Raden Dewi, menimbulkan kemarahan pada I Cupak dan akhirnya memuncak. Kemarahan yang sia-sia inimengakibatkan I Cupak sendiri terusir dari Puri Kediri.

 Kebahagiaan pun membalut I Grantang dan Ida Raden Dewi yang menikah dan bahagia selamanya. Garapan kecak SMK 3 Sukawati ini semakin terasa lengkap, sebab unsur bebondresan hingga teatrikal dimasukkan menjadi satu kesatuan garapan Kecak yang menghibur.

Kedua penampil nampaknya sama-sama paham, bagaimana sebuah kisah dapat merasuki Kecak. Keduanya pun memiliki ciri khas masing-masing, dimana SMA Negeri 1 Kuta Selatan unggul dengan kedinamisan kecaknya sedangkan SMK 3 Sukawati maju dengan kecaknya yang komplet.

Namun, yang tidak kalah penting kesamaan di dalamnya antara kedua sekolah ini adalah bagaimana mereka memberi pesan dalam sajian Kecak yang dibawakan kepada masyarakat luas. (lhs)

 

Pewarta: Ni Luh Rhismawati

Editor : Edy M Yakub


COPYRIGHT © ANTARA News Bali 2018