Karangasem (Antara Bali) - Kepala Sub Bidang Mitigasi Pemantauan Gunungapi Wilayah Timur Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG), Devy Kamil Syahbana mengatakan, dampak lahar hujan dengan intensitas tinggi dapat merusak infrastruktur sungai yang teraliri material vulkanik.

"Lahar hujan yang menerjang Sungai Yeh Sah, Desa Batusesa, Kecamatan Rendang dan Sungai Barak, Desa Tianyar, Kabupaten Karangasem beberapa waktu lalu apabila terjadi volume material piroklastik (abu, krikil, bebatuan vulkanik) yang bercampur air yang cukup besar akan merusak infrastruktur," ujar Devy di Pos Pantau Gunung Agung, Karangasem, Rabu.

Ia mengatakan, karakteristik sungai yang tidak dapat menampung volume material vulkanis sesuai fungsinya akan merusak segala infrastruktur yang ada didekatnya. Ia mencontohkan, sungai dengan ketinggian dua meter apabila diterjang material dan lahar yang melebihi volumenya akan naik ke atas dan dampak dari lahar ini nantinya sangat bergantung pada infrastruktur sungai ini.

Apabila kondisi sungai sudah baik dan dipersiapkan untuk dapat menampung volume lahar dingin maupoun lahar dingin yang cukup besar, amak masih aman. "Material piroklastik ini dapat merusak secara fisik infrastruktur yang ada didekatnya, karena material vulkanik ini juga mengandung zat kimia lainnya yang bukan gas dan berbentuk padat," ujarnya.

Pihaknya tidak merekomendasikan masyarakat melakukan aktivitas didekat lahar hujan itu, meskipun intensitasnya sangat kecil, karena dikhawatirkan akan berdampak pada keselamatan jiwa seseorang apabila mendadak ada lahar hujan susulan yang mengandung material piroflastik yang memiliki debit yang sangat besar.

"Kami tetap mengimbau kepada masyarakat agar tidak melakukan aktivitas didekat lahar hujan ini walaupun debit airnya kecil," ujarnya.

Ia mengatakan, saat dilakukan pengukuran gas magmatik (SO2) terekam hampir 2.000 sampai 3.000 ton per hari yang dilakukan pengukuran Pukul 10.00 Wita sebelum terjadinya erupsi pada Selasa (28/11) lalu.

Tingginya kadar SO2 ini mengindikasikan, bahwa magma berada dalam kedalaman yang dangkal, sehingga terjadinya potensi ke depannya masih sangat memungkinkan terjadi erupsi susulan.

Pihaknya juga mengingatkan masyarakat agar tidak melakukan kegiatan di radius rawan bahaya delapan kilometer dari puncak gunung ditambah perluasan sektoral sepuluh kilometer kearah utara, timur laut, tenggara, selatan dan barat daya.

Apabila masyarakat sudah ke luar dari zona itu, saya yakin tidak akan terdampak langsung dengan awan panas dan lontara bebatuan vulkanis dan jiga hujan abu lebat. "Masyarakat yang berada di luar radius ini tidak perlu khawatir karena tidak terlalu signifikan terdampak bahaya ini," ujarnya.

Untuk saat ini, aktivitas Gunung Agung masih terekam adanya pergerakan magma sehingga terekam gempa vulkanik sebanyak 17 kali. "Letusan dapat terjadi kapan saja dan gempa vulkanik yang memiliki amplitudo yang cukup kuat terekam," ujarnya. (WDY)

Pewarta: I Made Surya

Editor : Edy M Yakub


COPYRIGHT © ANTARA News Bali 2017