"Mereka terdiri atas Dewa Putu Rai dengan karya berjudul `Rangrang` dan Yudi Krisnajaya mengusung `Retro` yang akan tampil Sabtu petang (24/9)," kata Penata acara tersebut Putu Aryastawa di Denpasar, Jumat.
Ia mengatakan, kreasi musik baru untuk gamelan tersebut menyuguhkan komposisi serta perpaduan instrumen musik gamelan Bali yang terbilang tidak umum sehingga melahirkan unsur musikal yang kaya.
Komposisi Dewa Putu Rai misalnya bertajuk Rangrang, berangkat dari gagasan dasar Pengrangrang yang biasanya diposisikan pada bagian awal lagu (gending). Dalam gending Rang-Rang itu, ia akan menampilkan bersama Sanggar Seni Cudamani (Ubud), menggunakan media ungkap sepasang Gender Rambat, sepasang Jublag dan sepasang Jegogan. Dari semua instrumen yang digunakan, mengambil dari barungan Gamelan Semarandana.
"Ide musikalnya adalah ingin merajut pola yang berbeda dari setiap instrumen yang berbeda karakter, guna menghasilkan kesan ataupun sebuah inti dari rajutan itu yang mana tetap berpatokan pada ragam pola konvensional dalam pengrangrang," ujar Dewa Putu Rai.
Dewa Putu Rai sendiri merupakan anak dari I Dewa Nyoman Sura yang merupakan perintis sekaa tabuh sejak tahun 1960-an di Pengosekan, Ubud. Karena lahir di lingkungan yang menaruh perhatian terhadap dunia seni, Ia menjadikan aktivitas menari dan menabuh sebagai nafas serta ekspresi jiwa.
Ia mulai aktif menjadi pembina tabuh sejak masih bersekolah di Sekolah Menengah Kerawitan Indonesia (SMKI). Sementara I Gede Krisnajaya mencoba menghadirkan nuansa musikal baru dalam komposisi bertajuk Retro, menggabungkan antara instrumen reong dan terompong Gong Kebyar.
Kali ini, Yudi Krisnajaya yang telah mendalami dunia seni sejak remaja akan tampil bersama sekaa Gamelan Wrdhi Cwaram (Denpasar).
"Ide awal penyelenggaraan Komponis Kini muncul ketika apresiasi dari penonton secara umum terhadap karya musik baru, menurut saya pribadi, agak kurang. Mudah-mudahan melalui program ini bisa memberi ruang bagi komposer-komposer muda untuk berkreativitas serta melibatkan penonton musik serius untuk turut memberi apresiasi bagi perkembangan musik gamelan baru di Bali," ujar I Wayan Sudirana, kurator program tersebut.
"Komponis Kini" merupakan agenda yang digelar berkala setiap bulannya. Selain I Wayan Sudirana, sebagai kurator program tersebut juga Wayan Gde Yudane dan Dewa Alit.
Secara khusus Komponis Kini dihadirkan pula sebagai "A Tribute to Lotring," yang merupakan bentuk penghargaan dan penghormatan kepada maestro-maestro gambelan dimana karya-karya yang telah di ciptakan terbilang immortal.
Lotring sendiri merupakan sebuah fenomena, seorang seniman pelopor yang memberikan sentuhan personal pada keberadaan seni gambelan yang tumbuh di Bali. (WDY)
Pewarta: Pewarta: I Ketut Sutika: I Gusti Bagus Widyantara
COPYRIGHT © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.