Namun devisa itu turun 1,52 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya mencapai 288,89 juta dolar AS, kata Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Bali Adi Nugroho, di Denpasar, Sabtu.
"Perolehan devisa tersebut didominasi dari pengapalan berbagai jenis mata dangan khususnya hasil industri kecil dan kerajinan rumah tangga hasil sentuhan tangan-tangan terampil perajin setempat," kata Adi pula.
Ia menyebutkan, nilai ekspor Bali tersebut, khusus bulan Juli 2016 mencapai 28,15 juta dolar AS, merosot 41,10 persen dibanding bulan sebelumnya tercatat 48,05 juta dolar AS.
"Perolehan devisa bulan Juli 2016 itu juga menurun 17,69 persen dibandingkan dengan bulan yang sama tahun sebelumnya, mengingat pada bulan Juli 2015 menghasilkan 34,20 juta dolar AS," ujar Adi Nugroho.
Lima komoditas utama andalan Bali yang menembus pasaran luar negeri itu, terdiri atas produk ikan dan udang sebesar 28,46 persen, menyusul produk perhiasan (permata) 13,08 persen, serta produk pakaian jadi bukan rajutan 11,96 persen.
Selain itu, juga produk kayu dan barang dari kayu 7,95 persen, serta produk perabot dan penerangan rumah tangga 7,54 persen.
Adi Nugroho menambahkan, pasaran Amerika Serika menyerap paling banyak mata dagangan dari Bali mencapai 24,83 persen, menyusul Jepang 11,04 persen, Singapura 8,40 persen, Australia 7,28 persen, dan Hong Kong 4,65 persen.
Penurunan nilai ekspor Bali tersebut dominan dipengaruhi oleh menurun nilai ekspor tujuan Amerika Serikat yang mencapai 5,62 juta dolar AS atau merosot 44,58 persen.
Negara lain juga menunjukkan penurunan yang relatif tinggi, yakni Australia 3,48 juta dolar AS, Inggris 880.715 dolar AS, Hong Kong 757.922 dolar AS, dan China 748.165 dolar AS.
Jika dilihat dari jenis komoditas, penurunan nilai ekspor tersebut dipengaruh oleh berkurang nilai ekspor perhiasan (permata) yang mencapai 3,39 juta dolar AS, menyusul perabot, penerangan rumah 2,76 juta dolar AS, ikan dan udang 2,69 juta dolar AS, kayu, barang dari kayu 2,49 juta dolar AS, serta pakaian jadi bukan rajutan 1,79 juta dolar AS, ujar Adi Nugroho pula. (WDY)
Pewarta: Pewarta: I Ketut Sutika: I Gusti Bagus Widyantara
COPYRIGHT © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.