"Hal itu penting karena petani selama ini sangat khawatir harga padi setiap panen raya anjlok atau dengan harga yang sangat rendah," kata Gede Sedana yang juga Dekan Fakultas Pertanian Universitas Dwijendera Denpasar, Minggu.
Ia mengatakan, kebijakan subsidi di hilir sebagai upaya mempertahankan motivasi petani dalam menggeluti usahatani padinya, karena masih dirasakan adanya insentif ekonomis yang diterima saat panen.
"Kondisi itu menjadi berkah bagi para petani padi yang sekaligus menyediakan pangan bagi penduduk lainnya, baik yang tinggal di perkotaan maupun perdesaan," ujar Gede Sedana.
Ia mengingatkan bahkan sebaliknya akan menjadi ancaman jika tingkat harga dilepasliarkan berdasarkan pada pasar yang tidak terkendali, karena petani bisa menerima harga yang rendah karena mereka tidak memiliki kemampuan yang kuat.
Pada sisi lain petani dalam menghadapi curah hujan yang berlebih dan tidak tertanggulangi akan semakin memperparah kondisi petani yang sedang menggeluti usahatani padi.
"Kondisi itu kini melanda sejumlah petani di kabupaten/kota di Bali. Ancaman yang demikian ini semakin mendorong untuk dipercepat penerapan asuransi pertanian yang pada tahap awal premi asuransi sepenuhnya ditanggung oleh pemerintah.
Oleh karena itu, berkah dan ancaman bagi para petani perlu dikelola secara baik sehingga segala bentuk ancaman mereka bisa diubah menjadi suatu berkah guna menjamin keberlanjutan usahatani di lahan sawah dan ketersediaan pangan (beras).
Kelangsungan pertanian menjadi salah satu tujuan pembangunan pertanian yang menekankan pada kesejahteraan para petani.
Upaya itu dilakukan melalui kemitraan melibatkan berbagai pelaku pertanian lainnya, ujar Gede Sedana. (WDY)
Pewarta: Pewarta: I Ketut Sutika: I Gusti Bagus Widyantara
COPYRIGHT © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.