Tas buatan perajin Bali yang tidak laku untuk pasar luar negeri, pasti terjual kepada pelancong dalam negeri yang ramai menyambut tahun baru 2011, tutur Murniati, pedagang aneka kerajinan daerah di Denpasar, Selasa.
"Kami memproduksi tas dari berbagai jenis anyaman seperti pandan, bambu, kain yang dipadukan dengan monte-monte, bordiran dengan menyasar konsumen luar negeri terutama kaun wanita dan anak-anak remaja putri," kata dia.
Tas jenis Rara biola, tas kipas kecil coklat berukuran lebar atas 45 cm, lebar bawah 22 cm, tinggi 27 cm, dan ketebalan tas 9 cm dengan harga rata-rata Rp100.000 per buah dan itu semua terjangkau kebanyakan konsumen.
Krisis ekonomi bagi konsumen di negara maju belum pulih seratus persen merupakan salah satu penyebab perdagangan ekspor khusus tas sebagai barang cendera mata masih sepi, namun tetap semarak bagi konsumen dalam negeri.
Kepala Seksi Ekspor Dinas Perindustrian dan Perdagangan Provinsi Bali, Putu Bagiada SE di Denpasar mengaku realisasi perolehan devisa dari perdagangan khusus tas dari daerah ini diawal 2010 melorot hingga 68 persen.
Ekspor tas selama Januari-September 2010 hanya tercatat 99.881 pcs bernilai 182.091 dolar AS, baik volume maupun nilainya berkurang jika dibandingkan periode sama 2009 mencapai 386 ribu pcs seharga 571.998 dolar.
Ia menyebutkan, perajin tampaknya tidak terlalu surut dalam berproduksi tas dari berbagai jenis dan ukuran yang dipersiapkan untuk memasuki pasar ekspor, sebab dunia pariwisata semakin cerah terakhir ini.
Dunia parwisata berpengaruh terhadap realisasi ekspor aneka barang kerajinan Bali, yang naik 10 persen dari bernilai 152,6 ribu dolar menjadi 167,9 ribu dolar selama periode Januari-September 2010.
Aneka kerajinan Bali dipasarkan sedikitnya kepada 77 negara di dunia namun yang terbesar dikapalkan kepada konsumen Amerika Serikat, Uni Eropa, Jepang, Australia serta negara Asia lainnya, tutur Bagiada.(*)
: Masuki
COPYRIGHT © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.