Selain itu, Forda LSM Jembrana juga minta seluruh baliho yang bergambar Winasa yang tersebar di seantero Kabupaten Jembrana, Bali juga diturunkan.
Koordinator Forda LSM Jembrana Ketut Sujana alias Cong, di Negara, Kamis mengatakan, karena sudah tidak menjabat sebagai Bupati Jembrana, wajar semua gambar Winasa diturunkan atau dihilangkan.
"Itu perlu dilakukan agar tidak muncul konflik jika masyarakat sendiri nanti yang menurunkan," kata Cong yang didampingi pentolan Forda LSM lainnya, I Gusti Ketut Noder.
Cong juga menegaskan, dalam menyikapi pemerintahan di Kabupaten Jembrana pihaknya akan mendukung seluruh program sepanjang bertujuan untuk mensejahterakan masyarakat.
"Tapi kalau program itu seolah-olah bertujuan mensejahterakan masyarakat, tapi di sisi lain ternyata hanya rekayasa dari penguasa untuk mendapatkan keuntungan pribadi dari program itu, sudah tentu akan kami tolak," ujarnya.
Sementara Direktur RSU Negara dr Nyoman Susila MKes saat dikonfirmasi wartawan mengatakan, pihaknya belum bisa menuruti permintaan dari Forda LSM Jembrana tersebut.
Ia menyebutkan, agar tidak disalahkan terkait dengan penghapusan gambar Winasa di mobil ambulance, pihaknya akan berkoordinasi dulu dengan pemkab dan DPRD Jembrana.
"Sebenarnya kalau gambar itu menimbulkan polemik kami khawatir juga karena sekarang lagi pilkada, dan mobil itu adalah fasilitas publik yang fungsinya melayani semua masyarakat tanpa melihat apa pilihan politik mereka," kata Susila.
Menurut Susila, pihaknya hanya ingin tenang dan fokus dalam memberikan pelayanan kesehatan kepada masyarakat.
Di sisi lain beredar kabar RSU Negara akan bersurat ke Polres Jembrana berisi pengaduan atas perusakan aset menyusul penurunan patung Winasa di RSU tersebut oleh Forda LSM Jembrana.
Dikonfirmasi hal ini, Susila mengatakan, pihaknya belum berpikir untuk berkirim surat pengaduan ke kepolisian.
"Patung itu memang aset RSU yang disumbangkan oleh Yayasan Bali Harmoni, tapi terkait penurunannya kami belum bersurat ke polres," jelasnya.
I Gede Winasa sendiri yang dihubungi enggan untuk berkomentar soal patungnya tersebut.
"Saya kini kembali ke keluarga dan akan tetap menjadi guru," ujarnya pendek.
Sedangkan anggota DPRD Jembrana Putu Kamawijaya yang dikenal sangat dekat dengan Winasa, mengaku dirinya tidak mengerti tujuan dari aksi penurunan patung tersebut.
"Dasar melakukan aksi itu apa? Apakah mereka benci pada kebijakan atau kepada pribadi Winasa ?," ujar Kamawijaya mempertanyakan.
Ia sendiri mengaku menyerahkan masalah itu kepada penegak hukum dan sikap yang akan diambil RSU Negara sebagai pemilik patung.(*)
: Masuki
COPYRIGHT © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.