"Kami sedang gencar melakukan sosialisasi pemanfaatan briket, sasaran utamanya kini para pelaku usaha kecil, menengah dan industri rumah tangga lainnya," kata Direktur Pembinaan Program Direktorat Jenderal Mineral, Batubara dan Panas Bumi Kementerian ESDM, Tatang Sabarudin di Kuta, Bali, Sabtu.
Pada pembukaan seminar bertema "Pemanfaatan dan Penyediaan Briket Batubara", ia mengatakan, bahan baku energi briket sudah siap, tetapi untuk sementara disosialisasikan kepada para pelaku UKM karena biaya produksinya murah dan menguntungkan.
Saat ini Asosiasi Usahawan Briket Batubara Indonesia (AUBI) sudah menggandeng lebih dari 20 UKM skala menengah ke atas yang tersebar di 10 provinsi di Tanah Air untuk memanfaatkan briket.
UKM yang dimaksud antara lain yang bergerak di bidang pengeringan tembakau, pengeringan karet, pengeringan bawang merah, pemanasan rotan, industri tahu tempe, ikan pindang, pembakaran kapur, tepung ikan, peternakan ayam dan sebagainya.
"Target pemerintah tahun 2014 adalah minimal lima sampai 10 persen dari 52,2 juta UKM yang ada di Indonesia bisa menggunakan energi briket, sehingga Indonesia bisa menghemat penggunaan energi sebesar lima persen di tahun 2014 mendatang," katanya.
Sementara itu, Ketua Asosiasi Usahawan Briket Batubara Indonesia (AUBI) Ladjiman Damanik mengatakan, di Indonesia potensi energi yang berasal dari briket cukup banyak.
Dikatakan, perusahaan negara atau perusahaan batubara yang dikelola oleh BUMN rata-rata per tahun menghasilkan 230 ribu ton briket.
Selain perusahaan negara, kata dia, juga perusahaan swasta bisa menghasilkan 21 ribu ton per tahun. Sehingga total keseluruhan mencapai 251 ribu ton per tahun.
"Jumlah ini masih bisa ditingkatkan melalui sektor swasta, sehingga keseluruhan briket yang bisa dimanfaatkan sebagai energi alternatif bisa mencapai 300 ribu ton per tahun," kata Damanik, sembari mengatakan, bila seluruh warga Indonesia menggunakan energi briket tentu akan bisa terpenuhi.(*)
Editor : Nyoman Budhiana
COPYRIGHT © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.