"Tidak sedikit warga kami yang kini cemas atas keberadaan dan kualitas pendirian sekitar 200 tower sutet milik PLN Celukan Bawang yang tersebar di daerah kami," kata Kepala Desa Titab Nyoman Dharsana, di Singaraja, Minggu.
Kecemasan warga itu muncul setelah tewasnya salah seorang pekerja yang sedang mendirikan tower di Desa Titab, yakni korban Imam Syafii, pemuda asal Salatiga, Jawa Tengah.
Tower tiba-tiba roboh, sehingga korban yang sedang bekutat di ketinggian sekitar 80 meter itu tidak tertolong lagi jiwanya.
Kejadian di belahan Dusun Angsana, Desa Titab pada akhir Oktober lalu itu juga menyebabkan empat pekerja lain mengalami luka serius, bahkan harus kehilangan bagian tubuhnya.
Menurutnya, perisitiwa robohnya tower yang awalnya berusaha untuk ditutup-tutupi pihak PLN itu, kini menimbulkan ketakutan di kalangan warga setempat.
"Warga menjadi takut, jangan-jangan tower yang lain juga menyusul tumbang," katanya.
Dari informasi di lapangan, robohnya tower yang beratnya lebih dari satu ton di titik 51 itu, terjadi akibat lemahnya konstruksi dasar hingga mengakibatkan patahan di bagian pangkalnya.
"Peristiwa tersebut berlangsung ketika pekerja melakukan penarikan kabel," ujar Dharsana.
Dikatakan, pengerjaan tower sutet bertegangan tinggi sekitar 150 kilo volt milik PLN Celukan Bawang tersebut, dilakukan oleh PT Balfour Beati Sakti (BBS).
Pengerjaan yang dilakiukan sejak awal Januari 2010 itu, juga tercatat bermasalah terhadap pembebasan lahan yang kemudian menyebabkan Kades Pangkung Paruk, Made Bisma, menjadi terdakwa.
Dikonfirmasi terkait dengan kondisi korban yang masih hidup, Dharsana mengatakan, salah seorang pekerja yang kakinya harus diamputasi akibat tertindih material tower, kini masih harus menjalani perawatan serius.
Korban tersebut bernama Suparmin, sedangkan korban terluka lain tercatat atas nama Mad Nur, Saiful dan Sumaryono. Mereka sampai saat ini masih menjalani perawatan intensif di Rumah Sakit Shanti Graha Seririt.
Menurut Dharsana, yang menjadi kekhawatiran warganya adalah masih adanya sejumlah tower yang kini masih dalam proses pengerjaan di kawasan Desa Titab.
"Belum digunakan, tower sudah patah dan runtuh. Bagaimana ke depannya saat sudah beroprasi, karena ini merupakan material jangka panjang. Yang kami khawatirkan adalah rumah warga, karena banyak yang dekat serta dilintasi kabel PLN," kata Dharsana.
Ia menyebutkan bahwa pihaknya tidak bisa berbuat banyak terkait sudah adanya kesepakatan ganti rugi antarpihak PT PLN dengan warga pemilik lahan.
Di sisi lain, pihak PT BBS Bali lewat site menejernya, Sonny, membenarkan peristiwa yang menyebabkan korban jiwa itu, dengan menambahkan bahwa pihaknya masih melakukan kajian terkait dengan penyebab kejadian.
Terkait dugaan tindak pidana atau kelalaian dalam pengerjaan tower hingga jatuhnya korban tewas dan luka-luka, Kapolres Buleleng AKBP Mohamad Yudi Hartanto belum berhasil dikonfirmasi terkait dengan kejadian itu.(*)
: Nyoman Budhiana
COPYRIGHT © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.