Buleleng, Bali (ANTARA) - Pemerintah Kabupaten Buleleng Bali mendorong inovasi pangan berbasis potensi lokal melalui Lomba Kreasi Pangan Lokal yang digelar di lapangan parkir timur Kantor Bupati Buleleng, Kamis.

Kegiatan yang menjadi bagian dari rangkaian Buleleng Festival tersebut diikuti 18 peserta yang terdiri atas pelaku usaha kuliner dan pelajar SMA/SMK jurusan tata boga.

Lomba dibuka langsung Bupati Buleleng I Nyoman Sutjidra bersama Wakil Bupati Buleleng Gede Supriatna.

Lomba tersebut merupakan kolaborasi Pemkab Buleleng melalui Dinas Pertanian, Ketahanan Pangan dan Perikanan Kabupaten Buleleng dengan Indonesian Chef Association (ICA) BPC Buleleng.

Peserta dibagi menjadi dua kategori. Kategori umum yang diikuti pelaku usaha ditantang mengolah jukut undis dan sudang lepet, sedangkan kategori pelajar SMK mengolah sukun menjadi makanan kekinian yang memiliki nilai jual lebih tinggi.

Bupati Buleleng I Nyoman Sutjidra mengatakan kegiatan tersebut tidak hanya menjadi ajang kompetisi memasak, tetapi juga bagian dari strategi pemerintah daerah dalam memperkuat ketahanan pangan melalui pengembangan produk berbasis sumber daya lokal.

"Kegiatan ini merupakan bagian dari upaya Pemerintah Kabupaten Buleleng dalam memperkuat ketahanan pangan daerah melalui percepatan penganekaragaman konsumsi pangan berbasis potensi sumber daya lokal. Kita ingin masyarakat semakin mengenal, mencintai, mengonsumsi, dan mengembangkan pangan lokal sebagai bagian dari budaya hidup sehat sekaligus penguatan ekonomi daerah," ujarnya.

Ia menegaskan seluruh bahan yang digunakan peserta harus berasal dari produk lokal Buleleng. Sebelum perlombaan dimulai, juri dari ICA melakukan pengecekan terhadap bahan masakan yang dibawa seluruh peserta.

"Tidak boleh ada yang interlokal maupun internasional. Jadi betul-betul ini lokal, sehingga nanti jurinya betul-betul bisa menilai ini apakah asli Buleleng atau nanti impor dari luar," kata Sutjidra.

Menurutnya, Buleleng memiliki kekayaan sumber daya pangan yang sangat beragam, mulai dari umbi-umbian, buah-buahan, hasil pertanian, peternakan hingga perikanan.

Namun, potensi tersebut perlu diolah secara kreatif agar menghasilkan nilai tambah dan mampu bersaing di pasar. Penggunaan sukun sebagai salah satu komoditas yang diangkat dalam lomba tahun ini, kata dia, menjadi salah satu contoh pengembangan pangan lokal menjadi produk bernilai ekonomi.

"Potensi tersebut akan memberikan nilai tambah apabila mampu diolah menjadi produk yang inovatif, memiliki cita rasa yang baik, aman dikonsumsi, bernilai gizi, dan memiliki daya saing di pasar," ungkapnya.

Sutjidra juga mengajak peserta menjadikan perlombaan tersebut sebagai ruang belajar, mengembangkan kreativitas sekaligus membangun jejaring usaha.

Pihaknya menekankan bahwa kemenangan bukan menjadi tujuan utama, melainkan bagaimana inovasi yang dihasilkan dapat terus dikembangkan menjadi produk unggulan daerah.

"Menang atau kalah bukanlah tujuan utama. Yang terpenting adalah lahirnya inovasi baru yang mampu meningkatkan nilai tambah komoditas lokal, membuka peluang usaha, menciptakan lapangan kerja, dan pada akhirnya meningkatkan kesejahteraan masyarakat Buleleng," ujarnya.

Pemkab Buleleng, lanjut Sutjidra, terus berkomitmen memperkuat pengembangan pangan lokal melalui pemberdayaan petani dan penguatan UMKM pangan.

Pemerintah daerah juga menyiapkan kerja sama dengan Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) Buleleng agar sektor perhotelan dan restoran semakin banyak memanfaatkan produk UMKM serta bahan pangan lokal.



Pewarta: Rolandus Nampu/IMBA Purnomo
Editor : Ardi Irawan

COPYRIGHT © ANTARA 2026