Denpasar (Antara Bali) - Program bebas visa yang dilancarkan permerintah perlu ditindaklanjuti dengan pembukaan "jembatan udara" yakni memperbanyak usaha penerbangan dari negara-negara pusat pariwisata sehingga memberikan hasil yang maksimal.

"Infrastruktur juga perlu tetap dibenahi sehingga mampu memberikan keamanan dan kenyamanan bagi masyarakat internasional melakukan perjalanan ke Pulau Dewata," kata Pengamat Pariwisata, Tjokorda Gede Agung di Denpasar Rabu.

Etikad pemerintah untuk menjadikan sektor pariwisata sebagai unggulan di Indonesia hendaknya disambut positif komponen pariwisata, apalagi pemerintah sudah mengambil langkah nyata dengan memberikan bebas visa kepada puluhan negara.

Bebas visa diberikan kepada suatu negara perlu diikuti dengan kemudahan usaha penerbangan ke negeri itu pergi pulang dengan harapan mampu memberikan hasil maksimal, jangan seperti yang ada sekarang terutama terhadap keberadaan turis Rusia.

Pemerintah memberikan kemudahan kepada calon wisatawan asal Rusia dengan bebas visa ke Indonesia, namun usaha penerbangan ke negeri itu sangat terbatas hasilnya justru jumlah turis negeri beruang merah itu berkurang ke Pulau Dewata.

Tjok Gede Agung menambahkan, lain halnya dengan turis asal Tiongkok dan Jepang yang diberikan bebas visa diikuti dengan adanya pembukaan penerbangan oleh Garuda Indonesia ke negeri itu pergi-pulang memberikan dampak positif.

Turis asing asal Tiongkok yang berlibur ke Bali misalnya bertambah hingga 25,56 persen menjadi sebanyak 489.233 orang selama Januari-Agustus 2015, jika dibandingkan periode yang sama 2014 hanya 389.627 orang sehingga menempati urutan kedua setelah Australia.

Kemudian disusul oleh Jepang dengan naik peringkat dari urutan empat menjadi peringkat tiga dengan jumlah kunjungan 143.065 orang selama delapan bulan I-2015, atau bertambah 8,81 persen jika dibandingkan dengan periode yang sama 2014 hanya 131.483 orang.

Ia mengatakan, beda dengan turis asal Rusia yang kedatangannya justru berkurang hingga 36,21 persen dari 50.951 orang periode Januari-Agustus 2014 menjadi hanya 32.500 orang Januari-Agustus 2015, banyak faktor berkurangnya turis Rusia ke Bali.

Berkurang masyarakat Rusia ke Bali antara lain tiadanya penerbangan berkala ke negeri itu, kondisi ekonomi global dan situasi politik di dalam negerinya. Turis Rusia yang datang ke Bali selama ini lebih banyak menggunakan pesawat carteran, kata Tjok Agung.  (WDY)

Pewarta: Pewarta: I Ketut Sutika
: I Gusti Bagus Widyantara

COPYRIGHT © ANTARA 2026