"Sikap apatis sebagian masyarakat akan memberi peluang bagi mereka yang tidak cerdas dalam proses pengambilan keputusan. Karena itu, saya mendorong agar lembaga terkait terus memberikan pemahaman dan edukasi kepada masyarakat," kata mantan anggota KPU Pusat itu saat berorasi di Podium Bali Bebas Bicara Apa Saja(PB3AS), di Denpasar, Minggu.
Dia menambahkan, edukasi yang dimaksud adalah supaya masyarakat dapat menggunakan hak pilih dan tidak salah dalam menentukan pilihan.
"Jangan menentukan pilihan hanya karena latar belakang partai," ujarnya.
Di sisi lain, Putu Artha juga mengingatkan bahwa buta politik merupakan salah satu kebutaan yang paling berbahaya.
Orasi terkait pilkada juga disampaikan Lanang Sudira dari LSM Gerakan Solidaritas Masyarakat Bali, Ketut Wenten Ariawan dan Pak Ogah Taman Pancing.
Lanang Sudira menyoroti lemahnya pengawasan pilkada di Kabupaten Karangasem, khususnya dalam pemasangan baliho. Sementara Wenten Ariawan dan Pak Ogah menyampaikan harapan agar masyarakat memilih pemimpin yang berkualitas.
Sebelumnya dalam kesempatan yang sama, Gubernur Bali Made Mangku Pastika juga mengingatkan masyarakat di enam kabupaten dan kota yang akan menggelar pilkada pada Desember mendatang agar jangan memilih pemimpin hanya karena mendapat pembagian sembilan bahan pokok.
Menurut Pastika, mereka yang hanya mengandalkan uang atau sembako dalam proses pemilihan, nantinya hanya akan menjadi sosok pemimpin yang jauh dari harapan masyarakat.
Dalam memilih pemimpin, dia menyarankan masyarakat menimbang dan menguji kualitas dan kemampuan calon pemimpin melalui visi dan misi yang mereka tawarkan.
Pada 9 Desember 2015, pilkada akan digelar di enam kabupaten dan kota di Bali, yakni Jembrana, Tabanan, Badung, Bangli, Karangasem dan Kota Denpasar. (WDY)
Pewarta: Pewarta: Ni Luh RhismawatiEditor : I Gusti Bagus Widyantara
COPYRIGHT © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.