"Memperkenalkan kampung atau desa bagi orang Bali kepada wisatawan memang tidaklah mudah," kata Ketua Yayasan Yasa Putra Sedana Gianyar, Dewa Rai Budiasa, Rabu.
Pria yang sebelumnya sebagai staf kebudayaan Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) Bonn, Jerman itu mulai menggarap tarian tradisional tahun 1970-an untuk disuguhkan kepada wisatawan.
"Bulan Oktober ini kami mendatangkan wisatawan dari tiga negara untuk menonton tarian Ramayana yang sempat popular di tahun 1970-an," ujar Dewa Rai Budiasa usai pementasan tari Ramayan di Jero Pengaji, Desa Melinggih Kelod.
Wisatawan yang akan dijamunya itu berasal dari Perancis, Kanada serta Jerman. Selain disuguhkan sejumlah tarian, pada kesempatan kunjungan tersebut wisatawan juga mendapatkan penjelasan soal rumah tradisional Bali.
"Kemasannya sangat sederhana, tetapi menampilkan original Bali yang sesungguhnya," kata Dewa Rai Budiasa.
Berkat keberhasilannya membina kesenian di Banjar Pengaji Desa Melinggih Kelod Payangan, Kabupaten Gianyar, kelompok kesenian itu pada tahun 2011 sempat diundang mengikuti International Folklore Festival di Prancis dan pentas di sejumlah kota besar negara tersebut.
Dalam lawatannya itu, kelompok kesenian Bali mendapat penghargaan terbaik dari "Comitte International of Folklore Festival", sebuah badan di bawah naungan UNESCO, tutur Dewa Rai Budiasa yang juga Pengelingsir Jero Pengaji, Kecamatan Payangan itu. (WDY)
: I Gusti Bagus Widyantara
COPYRIGHT © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.