Denpasar (ANTARA) - Tokoh seni Prof. Dr. I Made Bandem dan Prof. Dr. I Wayan Dibia mengusulkan agar Pesta Kesenian Bali (PKB) dievaluasi setiap periode kepemimpinan dibanding digelar dua tahun sekali.
“Setiap satu periode minimal PKB ini kita perlu evaluasi, perencanaannya, pelaksanaannya, dan juga hasilnya karena PKB ini didasari atas perda, dibuat tim evaluasi, melihat juga fenomena perkembangan kesenian kita,” kata Prof Bandem dalam Diskusi Budaya PWI dan Kawiya PKB 2026 di Denpasar, Jumat.
Seniman senior sekaligus kurator PKB itu menyampaikan kurang sepakat jika solusinya mengubah PKB yang rutin setiap tahun selama 48 tahun ini menjadi dua tahun sekali, sebab banyak seniman hebat Bali antri untuk mendapat kesempatan tampil.
“Sejak lama ada usulan seperti itu, tapi sekarang kita menghadapi dunia yang global, dunia media sosial, PKB satu tahun sekali saja anak-anak sudah mencari cara belajar, sudah terampil, sehingga mestinya PKB tiap tahun menjadi lembaga riset tentang kesenian Bali,” ujar Prof Bandem.
Yang mestinya dilakukan untuk menjawab narasi PKB monoton menurut dia adalah menganalisa sajian-sajian yang sesuai minat masyarakat.
Seperti PKB 2026 ini dimana penampilan barong ket viral dan membuat panggung Ardha Candra Taman Budaya Bali penuh sesak, padahal jika melihat tahun sebelumnya, pergelaran baleganjur mendapat perhatian terbesar.
Melihat hal ini, tokoh seni itu mengusulkan dilakukan pembaharuan menggali potensi seni, salah satunya yang terlintas adalah musikalisasi puisi yang dipadukan dengan alat musik Bali.
Proses rekonstruksi kesenian tradisi yang hampir punah juga sudah semakin banyak, sehingga yang perlu didorong untuk memastikan pesta seni terus berjalan adalah kualitasnya.
Salah satu yang disoroti kurator adalah Pusat Kebudayaan Bali, kawasan yang sedang dibangun Pemprov Bali untuk mewadahi PKB ke depan.
Selama 48 tahun sudah, festival seni tahunan terbesar di Bali itu didominasi digelar di Taman Budaya Art Centre, sementara panggung dan luas area sangat terbatas, sehingga butuh ruang lebih untuk menampilkan lebih banyak kesenian.
Untuk itu, pemanfaatan kawasan baru dapat menjadi salah satu solusi dari evaluasi PKB 2026 ini.
Prof Dibya menambahkan bahwa dalam mengevaluasi Pesta Kesenian Bali, dapat saja dibagi dalam periode-periode kepemimpinan yang selama ini mengatur regulasi.
Periode pertama dimulai pada masa Gubernur Bali almarhum Prof. Ida Bagus Mantra sebagai pencetus PKB yang meletakkan fondasi pelestarian dan pengembangan seni budaya Bali melalui festival tahunan.
Selanjutnya, periode pada masa kepemimpinan almarhum Ida Bagus Oka lebih menitikberatkan pada konsolidasi dan penataan identitas budaya Bali, lalu era Dewa Made Beratha dimana PKB berkembang dengan pelibatan masyarakat yang semakin luas sehingga ruang partisipasi seniman, komunitas, dan generasi muda semakin terbuka.
Periode berikutnya berlangsung pada masa Gubernur Made Mangku Pastika yang memperkuat fungsi PKB sebagai sarana diplomasi budaya melalui berbagai festival seni dan penguatan jejaring kebudayaan, dan pada periode Gubernur Wayan Koster PKB diarahkan untuk membangun ekosistem budaya yang berkelanjutan melalui penguatan regulasi, perlindungan adat, tradisi, seni, dan budaya Bali.
Pewarta: Ni Putu Putri MuliantariEditor : Ardi Irawan
COPYRIGHT © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.