"Kambing yang tidak diketahui asal-usulnya itu, bentuk tubuhnya lebih besar dibanding jenis kambing pada umumnya, namun memiliki bulu lebat yang mengkilap," kata I Wayan Mudarta, Ketua Kelompok Ternak Kambing Gembrong Ujung Hyang, Desa Tumbu, Karangasem, Rabu.
Bulu ternak kambing itu dipilih oleh nelayan atau penghobi mancing, karena saat bulu tersebut masuk ke air laut menjadi bercahaya dan menarik perhatian ikan-ikan untuk menyambarnya.
"Bulu kambing tersebut tersebut sangat disenangi ikan, sehingga nelayan yang menggunakan umpan dari bulu kambing itu hasil tangkapannya bisa banyak," kata Wayan Mudarta.
Dia menerima bantuan dana pengembangan kambing jenis langka itu dari Ketua Umum Himpunan Kerukunan Tani Indonesia (HKTI) Prabwo Subianto sebesar Rp40 juta.
Selain melaut, nelayan daerah Karangasem juga sekaligus menjadi peternak dan petani, ujarnya.
Menurut Peneliti Balai Pengkajian Teknolgi Pertanian (BPTP) Bali, Supriyono Kuntoro, kambing gembrong telah melalui uji tes DNA guna mengetahui jenis asal-usul keturunannya.
Populasi kambing gembrong tersebut telah diakui sebagai khas Karangasem dan menjadi satu-satunya spesies di dunia, karena ternyata berbeda dengan jenis kambing gembrong yang ada di Persia.
BPTP Bali pernah memberikan bantuan sebanyak 18 ternak kambing gembrong dengan harapan populasinya bisa terus berkembang.
Hal itu dilakukan mengingat populasi kambing gembrong tidak begitu banyak, karena karakteristiknya sangat langka.
Hanya anak kambing yang lahir berwarna putih kekuningan yang bisa bisa menjadi gembrong. Jika lahir dengan warna lain, pertumbuhannya sama dengan kebanyakan kambing lain.
Populasi kambing gembrong sangat terbatas karena minat masyarakat mengembangkan jenis kambing tersebut masih relatif sedikit.(*)
: Nyoman Budhiana
COPYRIGHT © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.