Denpasar (Antara Bali) - I Made Bakti Wiyasa, salah seorang perupa yang juga dosen IKIP PGRI Bali mengatakan bahwa karya para perupa kontemporer Pulau Dewata diduga dicitrakan buruk oleh sebagian pengamat seni rupa Indonesia.

"Tujuan pencitraan buruk terhadap karya para perupa Bali itu untuk membuat seni rupa di daerah tujuan wisata nomor satu di Indonesia ini menjadi tidak berkembang dan tidak dianggap alias senyap," ujarnya di Denpasar, Jumat.

Bakti memberikan contoh pencitraan buruk itu dengan adanya pendapat yang mengatakan bahwa karya perupa Bali itu hanya berlogika pasar, apalagi jika para perupa itu mengangkat tema-tema budayanya sendiri.

Dengan demikian, katanya, karya tersebut dibuat untuk memenuhi permintaan pasar belaka. Padahal, jika dilihat secara obyektif anggapan seperti itu tidak benar.

"Selain itu, pencitraan tersebut merupakan salah satu cara untuk meniadakan seni rupa kontemporer Bali menjadi bagian seni rupa Indonesia," kata perupa yang tergabung dalam Sanggar Dewata Indonesia (SDI) itu.

Dikatakan, dampak dari pencitraan tersebut adalah membuat karya perupa Bali tidak dianggap, sebab selama ini banyak pengamat seni rupa Indonesia hanya mengakui karya seni rupa dari Bandung, Yogjakarta dan Jakarta.

Selain itu, katanya, dampak lain akibat pencitraan tersebut adalah membuat suasana kurang kondusif terhadap perkembangan seni rupa kontemporer Bali.

"Sebab terjadi hubungan tidak harmonis antara para perupa dengan pengamat seni. Mereka selama ini cenderung berjalan sendiri-sendiri," ujarnya.

Bakti mengatakan, penyebab adanya pencitraan itu ada beberapa aspek. Pertama, terbangunnya paradigma pariwisata di Pulau Dewata yang mendominasi semua aspek kehidupan masyarakatnya.

"Paradigma yang muncul tentang Bali adalah segala sesuatunya selalu dikaitkan dengan pariwisata. Padahal paradigma itu tidaklah benar, sebab masih banyak perupa yang menyimpan idealismenya," katanya.

Ditambahkan, penyebab lainnya adalah sedikitnya budayawan dan pengamat seni di Bali, sehingga tidak ada yang menyatakan bahwa semua anggapan tersebut tidaklah benar.(*)




: Masuki

COPYRIGHT © ANTARA 2026