Denpasar (Antara Bali) - Dinas Perindustrian dan Perdagangan Provinsi Bali mencatat perolehan devisa dari perdagangan kakao ke pasar internasional mencapai 327.748 dolar AS selama dua bulan Januari-Februari 2015 atau naik 92 persen dari periode yang sama 2014 hanya 170.822 dolar.

"Lancarnya perdagangan kakao ke pasar ekspor, mendorong petani lebih bergairah untuk menghasilkan buah yang berkualitas," kata Kepala Dinas Perkebunan Provinsi Bali I Dewa Made Buana Duwuran kepada Antara di Denpasar, Selasa.

Kakao hasil perkebunan rakyat Bali semakin gencar memasuki pasar ekspor bahkan dalam perolehan devisanya mampu menyalip hasil perdagangan kopi yang sudah menjadi mata dagangan tradisional yang dikapalkan ke luar negeri. Hasil perkebunan rakyat itu yang memasuki pasar ekspor tercatat sebanyak 46,7 ton selama dua bulan I-2015 bertambah jika dibandingkan periode sama 2014 hanya 16,7 ton, dengan tujuan utama adalah Amerika Serikat, Australia dan Jerman.

Ia mengakui kakao produksi petani daerah ini baru memulai memasuki pasar ekspor , tentu dalam jumlah masih terbatas yakni dalam belasan ton per bulan dan semakin lancar perdagangan itu diharapkan produksi petani semakin baik dan menerima harga yang bagus.

Masuknya kakao ke pasar ekspor menyababkan perolehan devisa dari sektor perkebunan Bali mencapai 431.228 dolar selama Januari-Februari 2015, atau bertambah 16,48 persen jika dibandingkan hasil perdagangan periode sama sebelumnya hanya 370.188 dolar. Bali selain kakao juga memperdagangan kopi hasil petikan petani setempat sebanyak 1,4 ton bernilai 93 ribu dolar dan vanili 250 kg seharga 10.000 dolar AS selama dua bulan I-2015, jadi kakao meraih devisa terbesar diantara hasil perkebunan Bali.

Dewa Made Buana Duwuran mengatakan, ada tiga daerah yang mengembangkan tanaman kakao yang cukup di daerah ini yakni petani di Kabupaten Tabanan seluas 5.063 hektare, menyusul Jembrana, 3.555 hektare, Buleleng 1.258 hektare sisanya di Badung, Klungkung, Bangli dan Karangasem.  (WDY)

Pewarta: Oleh I Ketut Sutika
: I Gusti Bagus Widyantara

COPYRIGHT © ANTARA 2026