Singaraja (Antara Bali) - Desa Gesing, Kecamatan Banjar, Kabupaten Buleleng, yang dijadikan pusat wisata budaya permainan gasing, menetapkan sejumlah aturan kompetisi "adu gangsing" guna mencegah kecurangan peserta.

"Banyak peserta melakukan kecurangan seiring kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi. Karena itu kami tetapkan aturan yang disepakati bersama," kata Putu Ardana, sesepuh pencinta yang sekaligus dipercaya menjadi ketua perkumpulan permainan tradisional khas di Desa Gesing, Jumat.

Ia menyampaikan hal itu di sela-sela menerima kunjungan wisatawan asing dari kalangan peserta Sail Indonesia yang tengah berlayar dan singgah di kawasan Pantai Lovina, Kabupaten Buleleng.

Menurut dia, para pencinta permainan gangsing atau gasing terus memperbaharui aturan lomba itu sejak sekitar tahun 2000, saat mulai marak kecurangan yang membuat peserta dengan gasing seadaanya selalu kalah.

"Peserta menggunakan berbagai macam cara untuk memenangkan kompetisi, sehingga memberikan citra yang kurang bagus. Wisatawan juga menjadi kurang berkenan, karena sering lomba berlangsung dengan gasing yang tak sebanding," ujar Putu Ardana.

Mereka di antaranya ada yang menggunakan gangsing berukuran besar berbahan kaca serat atau biasa disebut "fiberglass". Bahkan ada yang menggunakan besi agar gangsingnya tidak pecah ketika bertumbukan dengan milik lawan main," ujar Ardana.

Menurutnya, sesuai aturan yang telah disepakati di antaranya berat gangsing dalam kompetisi maksimal 1,6 kilogram, dengan jumlah lingkaran 67 dan diameter gangsing 21 sentimeter.

Karena sebelumnya ada yang menggunakan bahan non-kayu, maka kini gangsing kompetisi ditetapkan hanya menggunakan bahan kayu.

Bukan hanya kriteria dan bentuk serta ukuran gangsing yang ditetapkan serta menjadi kesepakatan dari catur desa (empat desa) yang jadi peserta lomba permainan tradisional tersebut.

Keempat desa yang menyepakati aturan tersebut selain Desa Gesing yakni Desa Gobleg, Munduk dan Desa Ume Jero. Pencinta dari keempat desa itu yang biasa melakukan adu gangsing dan menjadi tontonan wisatawan.

"Karena saat ini sulit untuk mencari gangsing yang pecah akibat dibenturkan ke lawan main, maka aturan permainan serta patokan kalah-menang juga mengalami perubahan. Kompetisi dinilai tidak lagi hanya berdasarkan pecah-tidaknya gangsing, melainkan kemampuan lama berputar dan nilai seni lainnya," tambahnya.

Kepala Desa Gesing Nyoman Sanjaya juga mengatakan, selain dirumuskan standardisasi kompetisi juga telah ditetapkan beberapa lokasi yang menjadi tempat adu gangsing.

"Ini sekaligus untuk memudahkan tujuan kunjungan wisatawan. Kami berharap wisata budaya kompetisi gangsing akan menjadi daya tarik baru yang semakin banyak dikunjungi turis," harapnya.(*)


: Nyoman Budhiana

COPYRIGHT © ANTARA 2026