Denpasar (Antara Bali) - Pelukis di Bali kini mengeluhkan semakin sepinya pembeli hasil lukisan mereka.
"Dulu sih pembelinya banyak terutama wisatawan yang sedang berlibur, tetapi sekarang sangat sulit memasarkan lukisan," kata Wayan Sunarta seorang pelukis muda asal Ubud Gianyar Senin.
Turis asing banyak yang datang ke studio hanya melihat-lihat lukisan tetapi jarang membeli barang seni di kawasan perkampungan seniman lukis di Ubud, kata Wayan di bengkel kerjanya.
Ubud daerah pariwisata terkenal di dunia, banyak dikunjungi turis asing hanya saja tidak banyak yang membeli hasil goresan tangan seniman daerah itu, dan kondisi ini dialami sejak Bom Bali pertama 2002 lalu.
Kepala Seksi Ekspor Dinas Perindustrian dan Perdagangan Provinsi Bali, Putu Bagiada SE di Denpasar mengakui perdagangan luar negeri khusus untuk lukisan dari daerah ini memang agak lesu dan perolehan devisanya turun.
Perdagangan lukisan ke luar negeri tiap tahun menurun, baik dalam volume maupun nilainya ekspornya.
Bagiada mengatakan, lukisan yang diekspor selama Januari-Juli 2010 tercatat hanya 224.160 pcs bernilai 905.557 dolar AS, menurun dibandingkan periode yang sama tahun 2009 mencapai 1,5 juta dolar.
Kondisi itu dialami para seniman kanvas di daerah ini sejak beberapa tahun terakhir ini, padahal jumlah turis asing yang berlibur ke pulau Dewata bertambah banyak bahkan dalam tujuh bulan I-2010 sudah 1,3 juta orang.
Semakin banyak turis ke pulau Dewata belum tentu yang membeli lukisan, karena penikmat dari barang seni tersebut terbatas. Para kolektor mancanegara sering datang ke Bali hanya saja tidak ada yang memesannya.
Menurunya realisasi ekspor lukisan Bali kemungkinan besar sebagai dampak dari krisis ekonomi yang melanda negara-negara besar di dunia, dan tanda-tanda perbaikan belum kondusif seperti di Amerika Serikat, keluh Made.(*)
: Masuki
COPYRIGHT © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.