Kegiatan lomba itu melibatkan organisasi wanita utusan dari delapan kabupaten dan satu kota di Bali, termasuk kalangan hotel dan restoran. Tim juri melakukan penilaian menyangkut kreasi penyajian, cita rasa, dan kebersihan.
Semua itu bertujuan mengajak masyarakat mengonsumsi ikan dengan harapan mampu meningkatkan produksi sektor perikanan dan kelautan yang belakangan ini lebih gencar berkat upaya dan terobosan oleh Menteri Kelautan dan Perikanan Susi Pudjiastuti.
Subsektor perikanan yang menjadi primadona pemerintah pusat, khususnya Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) dalam penegakan hukum atas "illegal fishing" yang dilakukan oleh negara tetangga memberikan dampak positif, tutur Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Bali Panusunan Siregar.
Kebijakan, gebrakan, dan terobosan yang dilakukan Menteri Susi Pudjiastuti selama ini telah berpengaruh terhadap meningkatkan subsektor perikanan terhadap pembentukan nilai tukar petani (NTP) Bali.
Subsektor perikanan yang meliputi usaha penangkapan ikan dan budi daya perikanan di Pulau Dewata boleh dikatakan mulai naik daun karena produksinya laku keras untuk memenuhi konsumsi masyarakat setempat di samping sebagai mata dagangan ekspor.
Kondisi itu menyebabkan peran subsektor perikanan terhadap pembentukan NTP pada bulan Januari 2015 meningkat sebesar 1,85 persen dari NTP Desember 2014.
Nilai tukar petani subsektor perikanan Bali meningkat dari 102,10 menjadi 103,99, berkat indeks yang diterima petani (lt) naik sebesar 0,74, sebaliknya indeks yang dibayar petani (lb) turun sebesar 1,09 persen.
Indeks yang diterima petani perikanan itu mengalami kenaikan tertinggi, sedangkan indeks yang dibayar petani mengalami penurunan terbesar dibandingkan dengan subsektor lainnya sehingga berdampak positif terhadap tingkat kesejahteraan nelayan dan masyarakat pesisir pada umumnya.
Kenaikan indeks yang diterima petani didorong makin mahalnya harga komoditas pada kelompok perikanan tangkap sebesar 1,19 persen, seperti cumi-cumi, tongkol, kakap, dan lemuru.
Pemerintah Provinsi Bali mengimbangi program primadona pemerintah pusat dengan memberikan bantuan dan kemudahan kepada para nelayan dalam melakukan aktivitas di laut, kata Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan Provinsi Bali Made Gunaja.
Untuk itu, Pemerintah Provinsi Bali melanjutkan pemberian bantuan mesin tempel kepada para nelayan di pesisir laut sebagai upaya untuk meningkatkan hasil tangkapan. Kemudahan itu diberikan mengingat potensi perikanan tangkap relatif cukup tinggi. Namun, sulit meningkatkan produksinya karena masih kurangnya sarana tangkap nelayan.
Pulau Bali yang memiliki panjang pantai sekitar 81.000 kilometer itu memiliki potensi perikanan tangkap sekitar 147.000 ton. Pada tahun 2014, hasil tangkapan baru mencapai 108 ribu ton sehingga produksi itu sangat berpeluang untuk ditingkatkan.
Peralatan Sederhana
Made Gunaja menjelaskan bahwa nelayan pesisir Pantai Bali dalam melakukan aktivitas menangkap ikan umumnya menggunakan peralatan yang relatif sangat sederhana dan sebagian lainnya mulai memanfaatkan peralatan kategorinya menengah ke atas, mayoritas hasil tangkapannya itu ikan tuna.
Nelayan yang menggunakan peralatan sederhanya itu sebagian besar hasil tangkapannya berupa kakap, kerapu, sardenila, dan cakalang. Atas dasar itu, Pemerintah Provinsi Bali pada tahun 2015 memberikan sebanyak 117 unit bantuan mesin tempel kepada para nelayan di tiga kabupaten yang meliputi Kabupaten Karangasem, Jembrana, dan Buleleng.
Dengan bantuan sarana produksi itu, diharapkan dapat berpengaruh signifikan dalam meningkatkan hasil tangkapan nelayan. Bantuan mesin tempel yang harga satu unitnya Rp28 juta itu sengaja difokuskan untuk para nelayan di tiga kabupaten karena selama ini memang konsentrasi nelayan Bali di daerah-daerah tersebut.
Pemprov Bali pada tahun 2014 telah membantu 63 unit mesin tempel yang sekarang ditingkatkan menjadi 117 unit. Pemprov Bali tahun ini juga akan memberikan 60 unit perahu dengan harga setiap unitnya Rp15 juta .
Selain itu, memberikan pendampingan kepada para nelayan agar bisa mengoperasikan kapal-kapal berukuran besar di atas 30 GT.
Berbagai upaya dan terobosan itu dilakukan mengingat mayoritas nelayan di Bali adalah nelayan kecil karena rata-rata mereka melaut hanya 1--2 hari. Penggunaan kapal besar itu perlu pendampingan, termasuk bagaimana manajemen pengelolaan dan membangun komunikasi karena kerjanya menjadi berkelompok.
Dinas Perindustrian dan Perdagangan Provinsi Bali mencatat ekspor hasil perikanan dari Pulau Dewata mencapai 113,068 juta dolar AS selama 2014, atau menurun tipis 1,51 persen dari tahun sebelumnya yang tercatat 114,800 juta dolar AS.
Sektor perikanan itu mampu memberikan kontribusi sebesar 22,44 persen dari total ekspor daerah Bali yang mencapai 503,82 juta dolar AS. Namun, total ekspor Bali tahun 2014 itu meningkat 3,65 persen dari tahun sebelumnya yang tercatat 486,06 juta dolar AS.
Ekspor perikanan itu yang paling banyak kontribusinya dari ikan tuna dalam bentuk segar dan beku yang mencapai 78,49 juta dolar AS atas pengapalan 26.166,7 ton, menyusul ikan jenis lainnya Rp14,49 juta dolar AS.
Sumbangan dari ekspor ikan kerapu 10,007 juta dolar AS hasil pengiriman sebanyak 1.158,8 ton, ikan kakap 4,06 juta dolar AS, ekspor ikan hias hidup 3,25 juta dolar AS, dan lobster 2,55 juta dolar AS.
Ekspor hasil perikanan Bali menuju pasaran potensial Jepang yang menyerap 30,76 persen, menyusul Amerika Serikat 19,60 persen, Taiwan 12,66 persen, Singapura 8,46 persen, Australia 1,33 persen, Hong Kong 5,10 persen, Tiongkok 3,53 persen, Belanda 7,64 persen, Prancis 0,30 persen, dan Thailand 0,79 persen.
Sisanya 9,84 persen menembus sejumlah negara lainnya karena hasil perikanan, khususnya ikan tuna dan udang, dari Bali mampu bersaing di pasaran luar negeri. (WDY)
Pewarta: Oleh I Ketut Sutika: I Gusti Bagus Widyantara
COPYRIGHT © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.