Hal tersebut disampaikan langsung oleh Ketua IDI Wilayah Bali periode 2014-2017, dr Kompyang Gautama usai acara pelantikan dirinya, di Denpasar, Sabtu, yang mengatakan bahwa para dokter juga harus merubah cara berkomunikasi dengan pasiennya.
"Ini bukan menjadi tantangan bagi para par dokter saja. Namun, juga bagi seluruh profesi lainnya dalam menghadapi MEA 2015," ujar Kompyang yang sebelumnya juga menjabat sebagai ketua IDI Wilayah Bali periode 2011-2014 itu.
Selain itu, peran pemerintah juga sangat penting dalam keberpihakannya kepada profesi dokter yang ada di Indonesia dan khususnya Bali sendiri. "IDI sudah siap menghadapi masuknya tenaga dokter luar ke Indonesia," ujarnya.
Ia mengatakan bahwa upaya meningkatkan kompetensi dan memperbaiki komunikasi kepada pasien menjadi tugas utama dalam bersaing dengan tenaga dari luar.
"Kami tidak ingin mencegah masuknya tenaga asing ke Indonesia karena ini sudah menjadi kebijakan pemerintah," ujarnya.
Untuk itu, pihaknya terus berupaya melakukan pembina kepada anggota IDI di masing-masing kabupaten/kota untuk tetap mengutamakan tugas pokok dan fungsinya sesuai dengan kode etik yang berlaku.
Hal tersebut sangat penting diterapkan mengingat dalam menjalankan profesi dokter sangat tidak mudah. Oleh sebab itu, para profesi dokter tidak hanya pintar di bidang kesehatan. Namun, harus memiliki memiliki kode etik profesi tersebut.
Pihaknya menuturkan bahwa untuk program kerja IDI Bali hampir sama dengan periode sebelumnya. Namun, untuk jumlah anggota terjadi penambahan.
Selain itu, dalam waktu dekat akan menggelar rapat cepat dalam melaksanakan tugas pokok dan fungsi yang ditentukan dalam Anggaran Dasar dan Anggaran Rumah Tangga (ADA/RT) untuk mempersiapkan diri dalam kepemimpinan yang mendatang. (WDY)
Pewarta: Oleh I Made Surya: I Gusti Bagus Widyantara
COPYRIGHT © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.