Denpasar (Antara Bali) - Rumah Sakit Umum Pusat Sanglah, Denpasar, membuka poli pengobatan herbal dengan fasilitas apotek yang menyediakan 40 item obat dari tumbuhan berkhasiat itu.

"Kami menerapkan pola pengobatan herbal yang sinergis dan terintegrasi dengan pengobatan modern," kata Direktur Utama RSUP Sanglah dr. I Wayan Sutarga, MPHM pada seminar "Perkembangan Herbal dan Penggunaannya dalam Bidang Kesehatan" di Denpasar, Sabtu.

Pada seminar yang digelar Tolak Angin bersama dengan Ikatan Dokter Indonesia (IDI) Provinsi Bali itu dia mengemukakan bahwa pengobatan herbal bukan lagi dianggap sebagai alternatif dalam upaya menyembuhkan pasien.

"Pengobatan herbal jamu harus dikemas dengan bagus dan tidak boleh lagi sebagai alternatif jika pengobatan dengan obat modern gagal, tapi prinsipnya adalah sinergitas. Herbal jamu ini adalah kekayaan bangsa yang harus kita gali dan kita hargai," katanya.

Ia mengemukakan bahwa saat ini apotek di rumah sakit milik pemerintah terbesar di Bali ini sudah menyedIakan 40 item obat herbal.

Dari jumlah itu, katanya, sebanyak empat jenis herbal dijual bebas, sementara 36 jenis lainnya dijual dengan menggunakan resep dokter.

"Dalam enam bulan, omzet penjualan obat herbal jamu di apotek ini mencapai Rp90 juta," katanya.

Ia mengajak kalangan medis di RSUP Sanglah untuk terus mengembangkan pengobatan herbal dengan melakukan berbagai penelitian.

Apalagi, katanya, Bali sendiri memiliki pola pengobatan tradisional tersebut yang dikenal dengan nama ayur wedic atau ayur weda.

"Mari kita menjalin kerja sama dengan berbagai pihak untuk mengembangkan pengoabatan herbal ini, termasuk dengan perguruan tinggi yang sudah membuka jurusan pengobatan dengan ayur wedic ini," katanya.

Sementara Manajer Produk Grup Tolak Angin Retna Wisawati mengemukakan bahwa pihaknya terus menyosialisasikan penggunaan herbal kepada masyarakat lewat berbagai kegiatan, seperti di Bogor, Semarang, Banjarmasin, Yogyakarta, Medan, Lampung, Bandung, Pekanbaru dan Jakarta.

"Kami bangga atas peningkatan status jamu menjadi obat herbal terstandar dan merupakan sebuah kemajuan bagi industri jamu karena telah diakui secara resmi oleh pemerintah. Bagi konsumen sendiri, hal ini akan menjadi jaminan untuk khasiat dan keamanannya," ujarnya.

Ia mengemukakan bahwa pihaknya telah melakukan uji toksisitas dengan tim Fakultas Farmasi Universitas Sanata Dharma Yogyakarta bahwa minum Tolak Angin dalam jangka panjang tidak menimbulkan efek samping jika diminum sesuai dosis. (*)


Editor : Masuki

COPYRIGHT © ANTARA 2026