"Kami berharap dokter tidak ada yang miskin, tapi jangan punya keinginan untuk kaya," kata mantan Dekan Fakultas Kedokteran Unud itu di Denpasar, Selasa.
Ia mengemukakan prinsip kerja seorang dokter bukan pada hasil akhir, melainkan pada proses penyembuhan sesuai dengan cara-cara yang diterapkan dalam dunia medis.
"Dokter itu bukan montir yang bisa memperbaiki mobil rusak seperti semula. Dokter tidak boleh memberikan jaminan kesembuhan kepada pasien," ujarnya.
Oleh sebab itu pula, menurut rektor yang berlatar belakang dokter spesialis penyakit dalam itu mewanti-wanti koleganya untuk tidak sembarangan memberikan obat yang belum tentu bisa menyembuhkan pasien dengan harga mahal.
"Jangan ada lagi dokter yang memberikan obat-obatan mahal. Apalagi sekarang sudah ada BPJS (Badan Penyelenggara Jaminan Sosial) sehingga obat-obatan yang disubsidi pemerintah ada hitung-hitungannya," kata Suastika.
Namun dia tidak memungkiri bahwa menempuh pendidikan di Fakultas Kedokteran biayanya mahal dan membutuhkan waktu relatif lama dibandingkan pendidikan sarjana strata 1 disiplin ilmu lainnya.
"Seandainya semua biaya perkuliahan di Fakultas Kedokteran ditanggung oleh pemerintah, tentu masalah kedokteran bisa teratasi," ujarnya.
Di Fakultas Kedokteran Unud pun hanya 20 hingga 25 orang dari lulusan sarjana S-1 yang mencapai 300 orang per tahun yang mendapatkan beasiswa penuh dari Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan serta Pemerintah Provinsi Bali.
"Memang jumlah penerima beasiswa penuh sangat sedikit. Kami mengupayakan ada penambahan penerima beasiswa di Fakultas Kedokteran," kata Suastika yang baru satu tahun menjabat Rektor Unud menggantikan Prof Made Bakta itu.
Tahun ini pihaknya mengusulkan penambahan jumlah penerima beasiswa penuh mahasiswa Fakultas Kedokteran Unud menjadi 40 orang per tahun.
Upaya untuk memangkas tingginya biaya perkuliahan di Fakultas Kedokteran pun dilakukannya dengan memampatkan materi perkuliahan.
"Kalau dulu untuk bisa menjadi dokter, harus kuliah sampai 12 semester. Sekarang sudah dimampatkan menjadi 10 semester saja," ujarnya.
Meskipun dimampatkan, lanjut dia, materi perkuliahan tidak berkurang dari sisi kualitas untuk menjaga profesionalisme dokter saat lulus pendidikan. (WDY)
Pewarta: Oleh M. Irfan IlmieEditor : M. Irfan Ilmie
COPYRIGHT © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.