Denpasar (Antara Bali) - Ekspor garmen atau pakaian jadi buatan masyarakat Bali semakin cerah di pasaran luar negeri walau masih mendapat persaingan ketat dari negara tetangga, seperti Vietnam, China, Filipina dan India.

"Perdagangan garmen ke luar negeri di awal 2010 semakin cerah, dan perolehan devisanya menunjukkan peningkatan," kata Kepala Seksi Ekspor pada Dinas Perindustrian dan Perdagangan Provinsi Bali Putu Bagiada, SE di Denpasar, Jumat.

Meskipun demikian, ia menegaskan bahwa konidisi tersebut tetap menuntut para pengusaha dan eksportir harus bekerja keras meningkatkan kualitas hasil karyanya sehingga disenangi konsumen. Mereka juga diharapkan mengembangkan sayap dengan menggarap negara-negara potensial pembeli garmen Bali lainnya.

Ia menyebutkan, pakaian jadi berupa bordiran, rajutan dan berbagai jenis garmen lainnya buatan masyarakat Bali mampu dikapalkan sebanyak 25 juta biji dari berbagai jenis dan bentuk seharga 53,6 juta dolar selama Januari hingga Mei 2010.

Perolehan devisa tersebut naik hingga 28 persen, sedangkan volume pengapalannya bertambah 42,3 persen jika dibandingkan dengan lima bulan pertama 2009. Hal ini berarti pakaian jadi buatan Bali pemasarannya semakin baik di luar negeri, katanya.

Bagiada mengatakan, ekspor pakaian jadi dari Bali semakin banyak dengan negara tujuan utama adalah negara-negara konsumen di Amerika Serikat, kawasan Eropa, Jepang, Australia, Selandia Baru dan negara Asia Pasifik lainnya.

Menurut dia, garmen Bali di pasaran ekspor sebenarnya mendapat saingan ketat dari negara tetangga terutama dari China, India, Vietnam, Filipina yang mampu memproduksi matadagangan sejenis dengan kualitas lebih baik dan harga bersaing.

Pakaian jadi buatan Bali dibuat dengan rancang bangun (desain) yang disesuaikan selera konsumen dan dipadukan dengan budaya setempat, sehingga pembeli luar negeri tidak mau berpindah tangan, maka pangsa pasarnya tetap ada, kata dia.

Desain pakaian yang dipadukan dengan budaya Bali itu menyebabkan realisasi ekspor pakaian dari Bali tetap ada walau sering menerima terpaan akibat krisis ekonomi global yang menimpa negara konsumen atau akibat peristiwa Bom Bali beberapa tahun lalu.(*)



: Masuki

COPYRIGHT © ANTARA 2026