"Kegiatan itu menyuguhkan tujuh film dokumenter dan dua film fiksi terpilih," kata Juwitta Lasut, staf Bentara Budaya Bali (BBB) yang menata kegiatan tersebut, di Denpasar, Rabu.
Ia menyatakan, tujuh film dokumenter dan dua film fiksi pendek yang akan disuguhkan kali ini merupakan sebuah retrospektif kecil, untuk melihat Indonesia sebagai "rumah" dengan laju demokrasi yang kian dinamis.
Sejumlah judul film yang akan ditayangkan itu, di antaranya berjudul "Begini Lho, Ed!; High Noon in Jakarta", "Konjak Julio; Kubu Terakhir", "Wayang Kampung Sebelah", "Omasido Sekolah", "Indonesiaku di Tepi Batas", dan Kumpulan "Fiksi Pendek Indonesia vol".
BBB menampilkan hasil Festival Film Solo "Begini Lho, Ed!" yang merupakan sebuah film dengan narasi lugas menceritakan peran Bung Karno dalam memediasi penggunaan ruang publik dan keterlibatan seniman secara kolektif.
Semua itu, menurut Juwita, bertujuan untuk membangun ikon-ikon peradaban yang menggambarkan karakter sebuah bangsa Indonesia dalam perspektif positif.
Sedangkan film berjudul "High Noon in Jakarta" mengisahkan tentang sepak terjang Gus Dur (almarhum KH Abdurrahman Wahid) sebagai sosok yang teguh dan berani dalam menghadapi pergolakan politik, dan mengambil keputusan dalam pelanggaran hak asasi manusia di Timor Leste yang melibatkan militer Indonesia pada awal reformasi.
Tersirat secara metaforis dalam salah satu adegan sewaktu Gus Dur berolahraga dan jalan pagi di halaman Istana Negara dengan pengawal dan ajudannya, sembari bernyanyi lirih.
Dengan mengikuti perjalanan Gus Dur ke Asia dan Eropa, melalui film tersebut digambarkan situasi diplomasi menghadapi opini internasional terkait kasus Timor Timur. (*/ADT)
Pewarta: Oleh I Ketut Sutika: I Nyoman Aditya T I
COPYRIGHT © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.