Sorot matanya tertuju pada Aksara Bali yang tertera di papan nama itu, kemudian pandangannya suami-istri itu beralih ke gedung-gedung megah dengan arsitektur gaya modern.
Sejenak turis itu tampak menggelengkan kepala, mungkin karena tidak bisa membaca aksara Bali atau tidak menemukan ciri khas arsitektur kota yang diwakili oleh makna Aksara Bali yang dipajang di papan nama tersebut.
Seorang pramuwisata yang mengantar kedua wisman itu secara cekatan mengalihkan perhatian, dengan menjelaskan bahwa Kota Denpasar, ibukota Provinsi Bali kini sedang gencar membangun citra kota sebagai kota berwawasan budaya.
Si `guide` menjelaskan, Aksara Bali yang dituliskan di papan itu sebagai bukti keseriusan pejabat menjaga kekayaan budaya kota Denpasar dan pernik-pernik budaya Bali yang "adiluhung".
Kemudian si guide buru-buru mengajak bule itu memasuki pasar Badung, pasar tradisional di tengah Kota Denpasar, meskipun hanya sekadar "cuci mata" dan melihat gaya hidup orang Bali di tengah pasar yang suasananya sumpek dan kalah bersaing dengan pasar swalayan.
Meskipun demikian pedagang pasar Badung itu masih bisa tersenyum manis kepada pelancong warga negara asing itu. Kondisi yang dialami orang asing diharapkan bisa menghubungkan titik-titik kesadaran orang Bali yang mewarisi kekayaan budaya para leluhurnya berupa Aksara Bali, tutur Direktur Program Doktor Ilmu Agama Pascasarjana Institut Hindu Dharma Negeri (IHDN) Denpasar Dr I Ketut Sumadi.
Pria kelahiran Batuyang, Kabupaten Gianyar 52 tahun yang silam itu memandang aksara Bali menjadi nafas kehidupan masyarakat Pulau Dewata yang diharapkan tetap lestari di tengah pesatnya perkembangan pariwisata.
Aksara Bali menjadi benang merah dalam menarik titik kesadaran ke masa lalu, masa kini, atau ke masa depan Bali. Semua itu diharapkan bermuara terhadap tumbuhnya sikap dan aksi nyata dalam membangkitkan kesadaran, memuliakan serta menjadikan aksara Bali yang kokoh dan lestari.
Pemerintah Provinsi Bali dan berbagai elemen masyarakat Bali melakukan langkah nyata dalam melestarikan aksara Bali, meskipun sering tersandung di tengah jalan. Banyak upaya pelestarian dilakukan tanpa berkesinambungan, menjadi proyek yang bersifat musiman.
Bahkan banyak orang yang awalnya bersemangat, kemudian perlahan bosan karena kelelahan dan kehabisan nafas berjalan sendiri, sebelum akhirnya berhenti dan bersikap acuh tak acuh.
Revitalisasi aksara Bali yang lebih mencerahkan semua orang dalam menjaga, melestarikan dan mencintai alam Pulau Bali seperti cahaya aksara yang dirangkai menjadi permata sastra jiwa, dihiasi bunga-bunga cinta yang tulus jiwa raga.
"Aksara Bali menjadi bara api menghangatkan alam Pulau Bali yang, telah memberikan air kebahagiaan hidup lahir batin," tutur Ketut Sumadi yang juga Ketua Ikatan Alumni Magister Kajian Pariwisata Universitas Udayana.
Memuliakan Warisan
Ketut Sumadi, ayah dua putra itu berharap adanya aktualisasi sikap memuliakan warisan leluhur, menemukan berbagai kemungkinan dalam menjaga identitas diri sebagai orang Bali.
Sebagai kekayaan budaya atau pusaka budaya yang bernilai tinggi aksara Bali
bukan warisan kekayaan yang bisa diukur dengan uang, apalagi diperjualbelikan seperti warisan berupa tanah yang bisa mendatangkan uang miliaran rupiah.
Oleh sebab itu tidak mengherankan, jika aksara Bali sering dipandang sebelah mata, tidak lagi menjadi primadona di kalangan generasi muda pewaris masa depan untuk mengekspresikan kata hatinya dalam melakoni kehidupan.
"Mereka bisa berbahasa Bali, namun tidak mampu menulis aksara Bali, bahkan melihatnya pun sangat jarang dalam kehidupan sehari-hari," ujar suami dari Ni Ketut Tirtawati itu.
Peneliti ritual Agama Hindu Sebagai Daya Tarik Pariwisata Budaya Bali, tahun 2003 itu menilai, masyarakat Bali yang menulis aksara Bali telah melatih mengekspresikan bahasa hatinya yang tulus kepada orang lain.
Hakekat suatu aksara (huruf) dan penulisannya, terletak pada bagaimana cara untuk menuliskan bunyi dalam sistem bahasa ke dalam simbol huruf. Demikian pula bagaimana orang lain yang datang ke Bali bisa mencintai seni budaya Bali dengan sepenuh hati. Sebaliknya orang Bali tidak bisa menulis dengan Aksara Bali.
Hal itu didorong oleh meningkatnya pola fikir pragmatis, yang melihat sesuatu lebih menekankan sisi manfaat praktis dan menguntungkan secara finansial, serta lemahnya sikap kritis orang Bali menyikapi desakan ideologi pasar.
Rayuan janji-janji meningkatkan taraf hidup dan memenuhi hasrat bersenang-senang yang ditebar para pengusaha besar dalam memutar roda perekonomian di Bali, telah menumpulkan perasaan cinta orang Bali untuk memuliakan warisan leluluhurnya berupa Aksara Bali.
Bahkan dalam konteks memuliakan warisan leluhur itulah perlu dilakukan langkah monumental dalam melestarikan Aksara Bali agar generasi mendatang tidak menyesal.
Hal itu penting mengingat aksara yang tersurat menyiratkan sebuah tanda tujuan yang hendak dicapai dalam hidup sebagai orang Bali.
Termasuk para pendatang dan pengusaha yang mencari sumber hidup di Bali, sesungguhnya tidak bisa lepas dari "tanda" dan "penanda" berupa Aksara Bali.
Berbagai problema sosial budaya yang sering meletup-letup di Bali, termasuk tindak kekerasan yang melibatkan krama Bali antardesa pakraman, atau antarpendatang, pengusaha pariwisata dengan penduduk lokal, merupakan salah satu dampak dari hilangnya aktivitas dan ruang-ruang di desa pakraman yang menjadi tempat "olah rasa menyurat Aksara Bali" untuk menemukan "makna" di balik "tanda" yang menjadi "penanda" suatu problema.
Hal ini sekaligus akan merusak sendi-sendi keutuhan Bangsa Indonesia berdasarkan Pancasila. Jika Aksara Bali semakin jauh di hati dan kabur dari pandangan mata orang Bali, maka mereka akan kehilangan diri sendiri dan tanah tempat berpijak.
Tali Pengikat
Aksara Bali dalam hidup keseharian masyarakat Pulau Dewata menjadi benang tali pengikat panca indria dan tongkat kehidupan menuju jalan spiritualitas.
Dengan benang tali pengikat dan tongkat aksara, seseorang diharapkan menjadi cahaya yang mencerahkan hati masyarakat. Tongkat seorang Pandita (orang suci) sesungguhnya adalah aksara yang disurat menjadi karya sastra, ekspresi suara hati yang tulus untuk menjadikan diri dan alam Pulau Bali sebagai "Candi Pustaka Saraswati".
Bali kini menjadi sasaran pembangunan hotel-hotel berbintang, vila, restoran, kafe, pertokoan, perumahan mewah, pengembangan infrastruktur jalan, dan bisnis kafling tanah yang menghancurkan tatanan wilayah desa pakraman.
Kondisinya memprihatinkan memang, tapi prihatin saja berkepanjangan tentu tidak patut karena akan menenggelamkan orang dan Pulau Bali secara perlahan. Kondisi itu berpengaruh terhadap nasib aksara Bali seperti berada di tepi jurang yang setiap saat jika orang Bali semakin lengah, tentu akan jatuh dan tenggelam dalam pusaran arus ideologi pasar kapitalis pariwisata global.
Faktanya, di Bali telah berdiri megah jalan layang di atas laut Teluk Benoa dan jalan bawah tanah (underpass) demi kenyamanan wisatawan dan tokoh-tokoh dunia yang akan melakukan konfrensi di Nusa Dua.
Aksara Bali dan orang Bali kalah cepat melayang, dibanding jalan layang dan pemikiran konglomerat yang jauh lebih dulu melayang-layang membangun pulau hiburan bertaraf internasional," ujar Ketut Sumadi.
Masih banyak tentang rencana pengembangan pembangunan proyek besar di Bali ke depan, seperti Bandara Internasional di Bali utara yang akan membabat hektaran hutan dan meratakan kawasan pegunungan, pembangunan rel kereta api melingkari pesisir Pulau Bali, atau membangun sirkuit bertaraf internasional.
"Tapi, sangat jarang ada wacana tentang penyelamatan Aksara Bali yang sungguh-sungguh dilakukan oleh pemerintah dan para pengusaha besar, termasuk kalangan pariwisata di Bali," ujar Ketut Sumadi.
Demikian pula tidak pernah terdengar DPRD Bali menyetujui anggaran sekian miliar rupiah untuk membangun Pusat Penataan, Pelestarian, serta Kajian Aksara dan Sastra Bali seperti di Jepang, China, Arab.
Yang memberikan perhatian terhadap aksara dan sastra jusru dari kalangan masyarakat kecil yang dapat hadir sampai di ruang-ruang kehidupan yang sangat pribadi.
Untuk itu Pusat Penataan, Pelestarian, dan Kajian Aksara dan Sastra Bali diharapkan bisa terwujud sekaligus menjadi objek wisata pariwisata budaya. Dari sini bisa dikembangkan berbagai bentuk kemasan dan cindera mata pariwisata yang berisi Aksara Bali, harap Dr Sumadi. (ADT)
Pewarta: Oleh I Ketut Sutika: I Nyoman Aditya T I
COPYRIGHT © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.