Lokakarya yang melibatkan berbagai kalangan itu merupakan rangkaian dari sejumlah kegiatan sebelumnya dalam upaya menyelamatkan orangutan dari ancaman kepunahan, kata Dr Ir Jamartin Sihite dari Program Pelayanan Konservasi Orangutan Universitas Trisaksi, dalam penjelasan disampaikan kepada ANTARA di Denpasar, Sabtu.
"Kami, para penggiat konservasi orangutan, menggelar lokakarya juga sebagai salah satu upaya menunjukkan kepada dunia, bagaimana kita di Indonesia melakukan sejumlah kegiatan guna menyelamatkan satwa langka yang terancam punah itu," ucapnya.
Kepedulian terhadap upaya penyelamatan orangutan, jelasnya, kembali ditegaskan melalui pencanangan strategi konservasi bertepatan penyelenggaraan konferensi internasional perubahan iklim (UNFCC) pada Desember 2007 di Nusa Dua.
Saat itu, Presiden Susilo Bambang Yudhoyono mengumumkan kepada dunia, bahwa Indonesia telah memiliki rencana strategi konservasi orangutan, mengingat keberadaan satwa tersebut turut berperan penting dalam pelestarian hutan.
Menurut Jamartin Sihite, sejak saat itu semua lini yang terkait upaya penyelamatan satwa yang hanya ada di Pulau Sumatra dan Kalimantan, termasuk Sabah dan Sarawak, Malaysia itu, bekerja bersama merancang sejumlah kegiatan.
Pada awal 2009 dilakukan pertemuan nasional, yang disusul pertemuan regional di lima provinsi habitat orangutan, meliputi Aceh, Sumatera Utara, Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah dan Kalimantan Timur.
Dari hasil serangkaian kegiatan tersebut, kemudian dilanjutkan pertemuan nasional yang dijadwalkan berlangsung Juni 2010 di Bali dan puncak kegiatan digelar lokakarya internasional Juli mendatang juga di Bali.
"Kami berharap melalui serangkaian kegiatan tersebut dapat membantu upaya melestarikan satwa langka yang sudah terancam punah dari bumi pertiwi ini," ujar Jamartin Sihite yang kelahiran Pematang Siantar, 21 Agustus 1965.
Pemerintah, dalam hal ini Ditjen Perlindungan Hutan dan Konservasi Alam Departemen Kehutanan, bersama Forum Orangutan Indonesia (Forina), setelah menggelar lokakarya internasional juga akan dilanjutkan pertemuan "International Meeting of the Association for Tropical Biology and Conservation (ATBC), yang rencananya juga diadakan di Bali pada 19-23 Juli 2010.
Departemen Kehutanan berharap agar lokakarya itu tidak hanya menarik perhatian para pakar/ilmuwan orangutan, perusahaan lokal dan multinasional, organisasi konservasi internasional, institusi bilateral dan multilateral, serta perwakilan pemerintah saja, tetapi juga kelompok konservasi yang lebih luas.
"Hal itu mengingat kita semua berhadapan dengan masalah ekologi yang sama. Masalah yang harus dihadapi dan diatasi secara bersama-sama," kata Jamartin Sihite.
Lokakarya juga bertujuan meningkatkan komunikasi dan juga mencari dukungan, secara nasional maupun internasional, termasuk memperkuat komitmen para pemangku kepentingan.
Selain itu juga mengembangkan kerjasama dengan sektor swasta, mendapatkan sumber dana atau donor yang potensial, dan ikut ambil bagian dalam kampanye internasional untuk masa depan konservasi orangutan yang lebih baik.(*)
Editor : Masuki
COPYRIGHT © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.