Peluncuran INAGOOS yang dikaitkan dalam Sesi Kedelapan Komisi Oseanografi Antarpemerintahan Subkomisi Unesco Untuk Pasifik Barat itu dilakukan Menteri Kelautan dan Perikanan, Fadel Muhammad, di Sanur, Bali, Senin.
Hadir dalam peluncuran itu sejumlah pemimpin di bidang kelautan dari 12 negara peserta dan badan PBB, di antaranya Sekretaris Eksekutif Komisi Oseanografi Internasional UNESCO, Wendy Watson-Wright.
INAGOOS adalah satu seri penelitian oseanografi antara Indonesia dengan sejumlah negara mitranya, dengan memakai kapal riset Baruna Jaya, yang ditambat di berbagai kota utama Indonesia.
Kapal Baruna Jaya III dipakai peneliti Indonesia dengan rekannya dari China, sedangkan Kapal Baruna Jaya IV antara peneliti Indonesia dan Amerika Serikat, serta Kapal Baruna Jaya VIII antara peneliti Indonesia dengan peneliti Australia dan Timor Leste.
Muhammad, Watson-Wright dan Gubernur Bali Made Mangku Pastika, sempat berbincang langsung melalui video satelit dengan para peneliti yang berlabuh secara terpisah. Pembicaraan itu juga dilakukan dengan mitra peneliti dari Badan Oseanografi dan Atmosferik Nasional (NOAA) Amerika Serikat, di kantor pusatnya, di Seattle, Washington.
NOAA bahkan juga melayarkan salah satu kapal penelitian utamanya, ROV Okeanos Explorer, dalam seri penelitian multi kebangsaan itu. Kapal ini dilengkapi secara khusus dengan banyak sekali instrumen penelitian laut dalam, yang kali ini dilayarkan di perairan Sangihe-Talaud, Sulawesi Utara, untuk meneliti perilaku gunung api bawah laut dan struktur dasar laut dalam.
Menurut Muhammad, "Kerja sama penelitian secara simultan dari timur ke barat dan utara ke selatan perairan Indonesia ini menunjukkan kemampuan peneliti kita telah sejajar dengan para peneliti oseanografi dunia."
Inilah saatnya, kata dia, untuk pertama kalinya di Indonesia terjadi proses pembagian beragam informasi dari para peneliti untuk kepentingan ilmu pengetahuan dan teknologi ke berbagai perguruan tinggi nasional secara persis.
Dia mengakui, selama ini memang telah sangat banyak penelitian kelautan dilakukan oleh berbagai negara, yang sebagian besar laporannya berakhir di meja-meja akademisi.
"Kali ini akan berbeda, penelitian dalam bentuk rangkaian panjang multi bangsa ini diupayakan akan menjadi landasan bagi banyak pemerintahan dalam mengambil kebijakan penting dan strategis di bidang kelautan," katanya.
Salah satu pertanyaan mendasar yang bisa diupayakan tuntunan jawabannya dalam seri penelitian oseanografi ini adalah rantai makanan di laut. Hal ini secara umum dipahami turut menjaga keamanan pangan umat manusia pada masa depan.
"Kita semua harus paham perilaku laut karena di situlah masa depan bumi ini. Perubahan iklim global saat ini dan ke depan juga dipengaruhi samudera dan laut secara sangat signifikan, namun hal itu justru dinafikan dalam banyak negosiasi tentang perubahan iklim global," kata Watson-Wright.
Dengan begitu, konferensi para ilmuwan dan pemerintahan di Bali kali ini, katanya, tidak hanya sebatas pada pemahaman pola pergerakan ikan mengandalkan citra satelit. "Jauh lebih dari itu, sangat mendasar dan PBB sangat menganggap hal ini penting, dan kami berterima kasih atas prakarsa Indonesia ini," katanya.(*)
: Masuki
COPYRIGHT © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.