Denpasar (Antara Bali) - Cukup banyak warga pemilih yang tercatat tidak hadir ke TPS pada pelaksanaan Pemilihan Umum Kepala Daerah (Pilkada) Kota Denpasar, Bali, Selasa.

Ketidakhadiran warga pada hari itu terlihat dari data jumlah pemilih yang tidak sesuai dengan jumlah suara yang masuk pada sejumlah TPS, demikian ANTARA melaporkan dari Denpasar.

Pada TPS X Dusun Cemara Agung, Desa Cemara Agung di kawasan Monang Maning, misalnya, dari 377 pemilih yang terdaftar, 120 di antaranya tercatat tidak hadir.

Beberapa warga yang punya hak suara mengaku tidak hadir ke TPS sehubungan tidak memiliki "jago" yang harus dimenangkang pada pilkada kali ini.

Selain tidak punya "jago", sejumlah warga juga mengaku setengah putus asa dalam ikut menentukan pilihan pada pesta demokrasi itu.

Keputusasaan tersebut timbul setelah sebagian masyarakat beranggapan bahwa siapapun yang menang, tingkat kesejahteraan keluarga mereka tetap saja tidak mengalami perubahan dari sedia kala.

Selain tidak berimplikasi terhadap kesejahteraan keluarga pemilih, beberapa warga juga mengaku tidak memilih karena banyak contoh pejabat yang akhirnya menjadi kuruptor.

"Untuk apa saya pilih koruptor," ujar Nyoman Nesa, warga Denpasar Timur yang mengaku telah berhenti memilih sejak Pilkada Gubernur Bali pada 2008.

Menanggapi itu, pengamat politik Drs AAG Wisnumurthi MSi mengatakan, adanya warga yang tidak mencoblos atau golput pada pelaksanaan pilkada kali ini, tidak perlu dirisaukan.

"Golput tidak perlu dirisaukan sebab itu juga merupakan hak warga, yakni hak tidak ikut menentukan pilihan," kata Wisnumurthi yang juga mantan ketua Komisi Pemilihan Umum (KPU) Bali.

Staf pengajar pada Fisipol Universitas Warmadewa Denpasar itu mengakui kalau golput jumlahnya cukup banyak pada pelaksanaan Pilkada Denpasar.

"Hal tersebut terlihat dari cukup banyaknya warga pemilih yang tidak datang ke sejumlah TPS hingga pemungutan suara usai dilakukan," ucapnya.

Namun demikian, ia mensinyalir bahwa jumlah golput pada pilkada kali ini lebih rendah dibandingkan dengan pemilu legislatif maupun Presiden yang telah lalu.

"Kami duga angkanya akan jauh lebih rendah dibandingkan dengan pemilu lain yang telah digelar tempo lalu," katanya menambahkan.(*)



: Masuki

COPYRIGHT © ANTARA 2026