"Batu tektif banyak mengelabui para perajin pembuat keris masa sekarang," kata Prof Tjokorda Tirta Nindia yang juga grup riset industri manufaktur dan permesinan teknik mesin Fakultas Teknik Universitas Udayana di Denpasar, Kamis.
Ia mengatakan hal itu ketika tampil sebagai pembicara utama dalam Sarasehan mengusung tema "Memaknai Taksu Keris Bali dalam Keragaman" serangkaian peringatan Hari Tumpek Landep, persembahan khusus untuk keris pusaka bagi masyarakat Bali yang diperingati Sabtu (24/8)
Di Indonesia, batu jenis meteorit banyak ditemukan di Pulau Belitung, Provinsi Bangka Belitung, dan penduduk lokal menyebutnya dengan batu satam.
"Banyak yang mengira bahwa batu jenis itu merupakan meteorit tetapi sebenarnya adalah produk benturan dari meteorit. Saat meteorit jatuh menimpa bumi, bagian bumi yang mengalami hantaman mengalami peningkatan suhu dan meleleh serta terpercik ke angkasa dan jatuh kembali ke bumi. Kandungan utama batu tektite adalah SiO2 (Glass, 1984) yaitu bahan gelas," katanya.
Ia menyarankan, para empu keris masa kini untuk tidak menggunakan campuran batu tektit untuk bahan keris, karena tidak mengandung besi atau nikel. (*/ADT)
Pewarta: Oleh I Ketut Sutika: I Nyoman Aditya T I
COPYRIGHT © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.