Denpasar (Antara Bali) - Ratusan keris pusaka dalam berbagai bentuk dan ukuran tertata rapi, lengkap dengan identitas dan tahun dibuatnya karya seni itu dalam sebuah ruangan besar di Museum Neka perkampungan seniman Ubud, Kabupaten Gianyar.

Museum swasta pertama di Indonesia yang diresmikan 7 Juli 1982 atau 31 tahun yang silam, awalnya hanya mengoleksi seni lukis, seni patung, namun sejak 20 November 2005 atau delapan tahun yang silam diperkaya dengan tambahan koleksi keris pusaka.

Hal itu dilatarbelakangi Badan Perserikatan Bangsa-Bangsa yang mengurusi Bidang Pendidikan, Ilmu Pengetahuan dan Kebudayaan (UNESCO) telah mengukuhkan keris Indonesia sebagai karya agung warisan kemanusiaan milik seluruh bangsa di dunia, tutur pendiri sekaligus pengelola Museum Neka, Pande Wayan Suteja Neka (70).

Koleksi keris pusaka pada awalnya bisa dihitung dengan jari, namun sekarang sudah bertambah menjadi 300 pucuk, di samping 312 koleksi berbagai jenis lukisan dan patung.

Menyongsong perayaan Tumpek Landep, persembahan khusus untuk keris pusaka dan benda-benda lainnya yang terbuat dari besi, baja, perak dan emas yang jatuh pada hari Sabtu, 24 Agustus mendatang, suami dari Gusti Made Srimin itu menjelaskan selama tahun 2012 misalnya berhasil menambah 88 pucuk keris.

Keris yang menjadi koleksi itu umumnya berumur ratusan tahun yang "diburunya" satu persatu dari berbagai pelosok pedesaan di Bali maupun dari sejumlah daerah di Tanah Air.

Dari ratusan koleksi keris tersebut, 27 buah di antaranya warisan puri dari zaman kerajaan di Bali, seperti keris Ki Baju Rantai dari Puri Agung Karangasem, daerah ujung timur Pulau Bali maupun Ki Gajah Petak dari Puri Kanginan Singaraja, daerah pesisir utara Pulau Dewata.

Demikian pula keris Ki Belang Uyang dari Puri Agung Gianyar dan sekitar 100 keris tangguh (kuno) yang dipereh dari berbagai daerah di Indonesia.

Koleksi keris tersebut juga ada yang digolongkan keris kamardikan, yakni dibuat oleh empu keris setelah Indonesia merdeka, atau berumur lebih dari setengah abad.

Padahal sebelumnya keris-keris tersebut disimpan pihak puri, hanya bisa dilihat sekali dalam 420 hari (enam bulan) saat ritual "Tumpek Landep".

Pengukuhan oleh UNESCO terhadap keris Indonesia sebagai karya agung warisan kemanusiaan milik seluruh bangsa di dunia menjadikan keberadaan keris Indonesia, sekaligus mendapat penghargaan dunia internasional.

Pengakuan itu secara tidak langsung membangkitkan perkerisan di Bali, sehingga tidak hanya dipandang sebagai benda sakral untuk kelengkapan kegiatan ritual, namun juga sebagai benda seni dan benda budaya yang diagungkan.

Keris bagi masyarakat Bali dinilai sakral, karena sebagian besar kegiatan ritual keagamaan melibatkan keris pusaka sebagai salah satu kelengkapannya, tutur Pande Suteja Neka.

Abad Ke-14

Pande Wayan Suteja Neka yang tampak sehat bugar pada usia senjanya itu sejumlah keris yang menjadi koleksinya itu memiliki kelebihan antara lain benda pusaka yang diberi nama I Balung Singkal, keris warisan abad ke-14 yang tetap dilestarikan oleh keturunan Patih Dalam Bedahulu.

Satunya lagi adalah keris yang bernama "Ki Gagak Tepat" warisan kerajaan Buleleng, Bali utara pada abad ke-17.

Kedua keris di antara ratusan keis yang menjadi koleksi museum Neka itu tetap dilestarikan dan dijaga kelangsungan, dengan harapan dapat diwariskan kembali kepada generasi mendatang. "Keris-keris tersebut terawat dengan baik, bahkan pada hari Tumpek Landep dibuatkan kegiatan ritual untuk menghormati dan menyucikan keris pusaka tersebut," ujarnya.

Umat Hindu Dharma di Bali menggelar kegiatan ritual untuk memperingati hari Tumpek Landep, persembahan suci yang khusus ditujukan untuk keris pusaka dan semua jenis benda yang terbuat dari bahan baku besi, perak, tembaga dan jenis logam lainnya.

Kegiatan ritual menggunakan kelengkapan sarana banten, rangkaian janur kombinasi bunga dan buah-buahan akan dilakukan Sabtu (24/8 di masing-masing rumah keluarga, sesuai tingkat kemampuannya.

Menurut Ketua Program Studi Pemandu Wisata Institut Hindu Dharma Indonesia (IHDN) Denpasar Dr I Ketut Sumadi M.Par Hari Tumpek Landep yang dirayakan setiap 210 hari sekali bermakna untuk memohon keselamatan kehadapan Tuhan Yang Maha Esa dalam manifestasinya sebagai Dewa Senjata.

Kegiatan ritual Tumpek Landep sekaligus "pujawali" Betara Siwa yang berfungsi melebur dan "memralina" (memusnahkan) untuk kembali keasalnya.

Aset yang mendapat persembahan khusus pada hari istimewa itu antara lain aneka jenis mesin, kendaraan, sepeda motor dan alat teknologi termasuk perangkat komputer, televisi dan benda-benda lain yang terbuat dari bahan baku besi, tembaga dan emas.

Bagi masyarakat yang bekerja sebagai petani pada hari Tumpek Landep mempersembahkan kurban suci itu ditujukan untuk alat-alat pertanian seperti canggul, sabit maupun traktor.

Sementara bagi perusahaan yang bergerak dalam bidang percetakan kegiatan itu lebih ditujukan untuk mesin-mesin percetakan, sehingga tidak jarang perusahaan yang sudah mapan menggelar kegiatan ritual berskala besar pada hari Tumpek Landep.

Semua itu merupakan wujud puji syukur orang Bali ke hadapan Tuhan Yang Maha Esa, karena telah memberikan pengetahuan dan kemampuan merancang teknologi canggih, hingga tercipta benda-benda yang dapat mempermudah manusia dalam kehidupan sehari-hari.

Oleh sebab itu teknologi canggih agar dimanfaatkan untuk hal-hal yang bersifat positif, sesuai dengan konsep hidup orang Bali yaitu "Tri Hita Karana", hubungan yang harmonis dan serasi sesama umat manusia, lingkungan dan manusia dengan Tuhan Yang Maha Esa.

Untuk itu seluruh peralatan yang digunakan umat manusia dalam mengolah isi alam, khususnya peralatan yang mengandung unsur besi, baja, emas, atau perak tetap terjaga kesucianya.

Dengan demikian selamanya akan dapat digunakan dengan baik, tanpa merusak alam lingkungan, termasuk perajin pande besi tidak membuat produksi yang bisa membahayakan kehidupan umat manusia.

Keris selain menjadi koleksi museum, masing-masing rumah tangga di Bali juga memiliki koleksi keris yang umumnya digunakan untuk kelengkapan ritual.

Keris memiliki pamor yakni guratan-guratan logam cerah pada helai bilah. Jenis senjata tikam itu mirip dengan keris adalah badik, pada masa lalu berfungsi untuk berperang, sekaligus benda pelengkap upacara. Namun belakangan penggunaan keris lebih menekankan pada benda aksesori dalam "payas agung" busana Bali.

Keris-keris itu pada tumpek landep dibuatkan ritual bersama kendaraan, sepeda motor, maupun pesawat televisi, tutur Ketut Sumadi. (*/ADT)


Pewarta: Oleh I Ketut Sutika
: I Nyoman Aditya T I

COPYRIGHT © ANTARA 2026