"Dana tersebut digunakan untuk implementasi program, salah satunya melatih fasilitator desa-desa `pakraman` (desa adat) di seluruh Pulau Dewata yang merupakan proyek percontohan dalam mewujudkan kebersihan desa sebagai penunjang daerah tujuan wisata," kata Direktur Pemberdayaan Masyarakat Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Bakrie MM di sela pelatihan fasilitator desa di Denpasar, Selasa.
Ia mengatakan tujuan dari pelatihan fasilitator desa tersebut nantinya diharapkan di desa bersangkutan akan mampu menjaga kebersihan, dengan melakukan pengelolaan sampah warga setempat.
"Para fasilitator yang dilatih tersebut nantinya mampu memberikan pelatihan dan mengarahkan masyarakat dalam membuang sampah agar tidak sembarangan, melainkan mampu diolah menjadi barang bernilai ekonomis," katanya.
Menurut dia, pengelolahan sampah organik misalnya diolah menjadi pupuk organik, begitu juga kalau sampah anorganik seperti botol-botol air minum dan kaleng minuman tersebut bisa dijual atau membuat kerajinan tangan.
"Sampah organik bisa dikelola menjadi pupuk tanaman, dengan teknologi sederhana. Sedangkan sampah organik tersebut kalau bisa dijual untuk diolah ke pabrik juga akan bernilai ekonomis," ujarnya.
Memang kesan wisatawan yang datang ke Bali, umumnya Indonesia kesan kotor oleh sampah menjadi perhatian mereka. Karena itu diharapkan melalui fasilitator desa, permasalahan tersebut ke depannya dapat diatasi secara perlahan-lahan. (LHS)
Pewarta: Oleh I Komang Suparta: Ni Luh Rhismawati
COPYRIGHT © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.