Tangerang (ANTARA) - Dokter spesialis kedokteran fisik dan rehabilitasi, dr. Kevin Triangto, mengatakan shockwave therapy dapat menjadi bagian dari program rehabilitasi atasi nyeri pada bahu, tennis elbow, lutut, tumit, punggung hingga leher yang berlangsung terus-menerus.

Ia menjelaskan, terapi ini menggunakan gelombang akustik yang diberikan dari permukaan tubuh tanpa sayatan dan tanpa memasukkan alat ke dalam tubuh sehingga rehabilitasi tidak hanya bertujuan mengurangi rasa nyeri.

“Dalam rehabilitasi, tujuan kita bukan hanya mengurangi nyeri, tetapi membantu pasien kembali bergerak dan melakukan aktivitas sehari-hari dengan lebih baik sesuai dengan kondisi yang dialaminya,” ujar dr. Kevin dari RS Jantung dan Pembuluh Darah Harapan Kita Jakarta dalam keterangannya di Tangerang, Senin.

Ia mengatakan, keluhan pada area bahu dan lengan juga dapat dialami sebagian pasien setelah menjalani pemasangan Permanent Pacemaker (PPM) atau alat pacu jantung. Rasa tidak nyaman, kekakuan, hingga keterbatasan gerak pada sisi tertentu dapat membuat aktivitas sehari-hari menjadi kurang leluasa.

Sementara itu penerapan shockwave therapy yakni dilakukan dengan menempatkan alat pada bagian tubuh yang menjadi target terapi, kemudian memberikan gelombang akustik ke jaringan tersebut.

Terapi ini telah digunakan sebagai salah satu modalitas dalam penanganan beberapa kondisi muskuloskeletal, terutama gangguan tertentu pada tendon. Dalam program rehabilitasi, shockwave dapat dikombinasikan dengan latihan fisik, edukasi, serta modifikasi aktivitas sesuai kebutuhan pasien.

“Tidak semua keluhan nyeri membutuhkan terapi yang sama. Pemeriksaan terlebih dahulu diperlukan untuk mengetahui sumber masalah dan menentukan apakah shockwave sesuai untuk pasien,” jelas dr. Kevin.

Shockwave therapy dapat dipertimbangkan sebagai salah satu modalitas rehabilitasi pada sejumlah kondisi muskuloskeletal, antara lain keluhan pada bahu, tennis elbow, nyeri lutut dan tumit, cedera olahraga, serta keluhan tertentu pada punggung dan leher.

Terapi itu merupakan salah satu modalitas yang dapat dipertimbangkan pada kondisi tertentu. Namun, keputusan penggunaannya tetap harus didasarkan pada diagnosis, kondisi jaringan, riwayat tindakan medis, serta kebutuhan masing-masing pasien.



Pewarta: Achmad Irfan
Editor : Dewa Ketut Sudiarta Wiguna

COPYRIGHT © ANTARA 2026