Denpasar (ANTARA) - Dinas Kesehatan (Dinkes) Bali melakukan pengetatan pengawasan terpadu di pintu-pintu masuk guna mewaspadai masuknya hantavirus ke provinsi itu.

“Pemprov Bali melalui Dinas Kesehatan mengambil langkah preventif dengan memperketat surveilans atau pengawasan terpadu di pintu-pintu masuk, baik pelabuhan, bandara, maupun wilayah kerja yang berisiko tinggi,” kata Kepala Dinkes Bali I Nyoman Gede Anom di Denpasar, Selasa.

Anom menjelaskan pengawasan ini dilakukan untuk memastikan Bali terjaga dari penyebaran hantavirus. Hingga saat ini, kata dia, belum ada kasus maupun suspek hantavirus yang terdeteksi di provinsi itu.

Pengawasan melalui skrining di pintu masuk diperketat terutama pada pekerja migran atau kru kapal pesiar yang kembali ke Bali. Pihaknya juga memperkuat koordinasi dengan Dinas Kesehatan kabupaten/kota dan pihak fasilitas kesehatan, seperti rumah sakit, klinik, maupun puskesmas.

Anom mengatakan langkah ini untuk memantau pasien dengan gejala flu berat yang memiliki riwayat kontak dengan tikus atau berada di lingkungan tidak bersih.

Ia mengingatkan hantavirus adalah penyakit zoonosis yang ditularkan melalui hewan pengerat, terutama tikus, dan virus ini dapat ditularkan ke manusia terutama melalui kotoran, urine, atau air liur tikus yang terinfeksi.

“Penularan ke manusia juga terjadi jika menghirup debu yang terkontaminasi kotoran tikus tersebut, bukan penularan antar-manusia seperti COVID-19,” ujar Anom.

Untuk gejalanya, lanjut dia, orang yang terinfeksi hantavirus akan mengalami flu berat, termasuk demam, pusing, nyeri otot, dan jika parah dapat menyebabkan gangguan pernapasan.

Langkah lain yang juga dilakukan Pemprov Bali adalah edukasi yaitu terus mengimbau masyarakat untuk menjaga kebersihan rumah dan lingkungan guna mencegah populasi tikus, melalui perilaku hidup bersih dan sehat.

“Warga agar tidak panik, namun tetap waspada dengan menjaga kebersihan rumah agar tidak menjadi sarang tikus, membersihkan rumah atau gudang yang lama tidak dipakai menggunakan masker dan sarung tangan, serta tidak menyapu kotoran tikus secara kering agar debu tidak terbang,” kata dia.



Pewarta: Ni Putu Putri Muliantari
Editor : Ardi Irawan

COPYRIGHT © ANTARA 2026