Jakarta (ANTARA) - Mahakarya Pictures merilis film animasi berunsur fiksi ilmiah berjudul “Pelangi di Mars” yang disutradarai oleh Upie Guava dengan latar cerita keberanian seorang astronot yang ingin menyelamatkan kehidupan manusia di bumi.
“Pelangi di Mars" adalah film keluarga yang menceritakan saat manusia Bumi mengeksplorasi Mars lebih jauh karena di planet asal mereka saat itu sedang terjadi krisis air.
Film dimulai dengan cerita berlatar tahun 2082 saat planet Bumi tercemar air kotor parah sehingga kehidupan di Bumi tidak layak lagi ditinggali.
Seorang astronot perempuan Indonesia bernama Pratiwi (diperankan oleh Lutesha) ditugaskan untuk mencari mineral zeolite omega di planet Mars yang nantinya akan digunakan untuk menjernihkan air di bumi agar kehidupan bumi kembali normal.
Misi Pratiwi sederhana, mengumpulkan mineral tersebut ke kapal luar angkasa yang sudah disiapkan, lalu ia akan bisa kembali ke Bumi bertemu suaminya (diperankan oleh Rio Dewanto) dan hidup bahagia disana. Namun ternyata pencariannya tidak semudah itu.
Di tengah misinya mencari zeolite omega, banyak tantangan seperti medan planet Mars yang tidak bersahabat, yang membuat para peneliti yang ada di sana pulang ke bumi meninggalkan dirinya tanpa diketahui oleh siapapun. Pratiwi juga mendapatkan keajaiban di tengah kesulitannya sendiri di planet asing dengan mendapati dirinya hamil dan lahirlah Pelangi (diperankan oleh Messi Gusti) sebagai anak pertama yang lahir di Mars.
Produksi film "Pelangi di Mars" memanfaatkan teknologi Extended Reality (XR) yang dikembangkan selama lima tahun oleh Studio DossGuavaXR milik Upie Guava guna memperkuat kedalaman penyampaian cerita. Selain XR, film ini juga menggunakan Unreal Engine, teknologi grafis real-time yang banyak diterapkan dalam produksi film modern dan industri video gim.
Proses produksi film ini melibatkan lebih dari 200 tenaga kreatif asli Indonesia, mulai dari tim efek visual, animator, desainer produksi, hingga teknisi digital.
Pewarta: Fitra AshariEditor : Dewa Ketut Sudiarta Wiguna
COPYRIGHT © ANTARA 2026