Denpasar (ANTARA) - PT Bank Tabungan Negara (Persero) Tbk memperluas pembiayaan selain segmentasi kredit pemilikan rumah (KPR) salah satunya mendukung ekosistem program pemerintah yakni Makan Bergizi Gratis (MBG).
“Kami sudah mulai masuk ke MBG,” kata Direktur Network dan Retail Funding BTN Rully Setiawan di sela diskusi dengan awak media di Denpasar, Bali, Minggu.
Menurut dia, penetrasi pembiayaan ke ekosistem MBG perlu terus digenjot karena ia mengakui realisasinya masih belum banyak.
Ia pun siap mendongkrak penetrasi kredit kepada pelaku usaha mikro kecil menengah termasuk ekosistem yang terkait dengan MBG.
Apalagi pemerintah melalui Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa berencana menambah injeksi penempatan dana kepada perbankan sebesar Rp100 triliun.
Jika bank pelat merah ini mendapatkan tambahan suntikan dana pemerintah, maka menjadi momentum untuk ekspansi kredit ke pasar.
Sebelumnya, bank BUMN itu mendapatkan alokasi sebesar Rp25 triliun dari total Rp276 triliun penempatan dana pemerintah kepada lima bank anggota Himpunan Bank Milik Negara (Himbara) dan satu bank pembangunan daerah (BPD).
Rinciannya, Bank Mandiri, BRI, dan BNI masing-masing menerima Rp80 triliun, BTN Rp25 triliun, BSI Rp10 triliun, serta Bank DKI Rp1 triliun.
Ia optimistis apabila kembali memperoleh tambahan dana pemerintah maka dapat mendongkrak mesin pertumbuhan kredit.
Pasalnya, saat menerima dana pemerintah sebesar Rp25 triliun, pihaknya mampu menyalurkan kredit dengan pertumbuhan double digit.
“Dengan dana masuk, kami bisa ekspansi menyalurkan kredit yang tumbuh double digit. Ini sejarah juga biasanya sembilan persen, bisa menjadi 12 persen,” ucapnya.
Adapun strategi utama yang dilakukan kini adalah melakukan transformasi menjadi bank transaksional sehingga bukan hanya layanan kredit pemilikan rumah (KPR).
Selain ekspansi kredit di luar KPR, pihaknya juga memperkuat penghimpunan dana murah melalui layanan digital termasuk lewat aplikasi Bale yang diharapkan dapat menekan biaya bank dan dapat mendongkrak laba perusahaan.
Pada akhir 2025 pihaknya mampu menurunkan biaya bank (cost of fund) menjadi 3,9 persen dan ditargetkan 2026 di bawah tiga persen.
Pada 2025 pihaknya mencetak laba sebesar Rp3,5 triliun atau tumbuh 16,7 persen secara tahunan dan pada 2026 laba ditargetkan menembus Rp4,5 triliun.
Pewarta: Dewa Ketut Sudiarta WigunaEditor : Ardi Irawan
COPYRIGHT © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.