Badung (ANTARA) - Pengusaha properti di kawasan Canggu, Bali, mulai membangun tren bisnis kavling berkelanjutan.
Direktur Utama PT Asia Mas Realty Edy Pangestu sebagai salah satu pebisnis yang menggagas tren ini di Kabupaten Badung, Kamis, mengatakan sengaja hadir dengan konsep menjual tanah kavling sebab pascapandemi COVID-19 permintaan akan properti di kawasan tersebut melonjak.
Namun, lonjakan permintaan hanya dibarengi dengan pertumbuhan hunian atau bangunan komersil yang tidak memberi kebebasan pemilik dalam menentukan konsep sendiri.
“Kalau orang kebanyakan jual vila atau rumah di sini, jadi orang-orang dihadapkan dengan satu pilihan dari ujung ke ujung, sedangkan membangun tren ini jadi memberi keunikan sendiri bahwa kebebasan perlu dan itu anda yang tentukan,” kata Edy Pangestu.
Dengan meluncurkan tren bisnis tanah kavling ini, pengusaha tinggal menambahkan inovasinya sendiri, seperti Edy Pangestu yang mengembangkan tanah kavling seluas 10 hektare nya menjadi Canggu Hills yang berkelanjutan di tengah padatnya kawasan tersebut tiga tahun terakhir.
“Ada sistem pengolahan air limbah terintegrasi dan rainwater harvesting, lebih dari 30 persen lahan dialokasikan untuk ruang terbuka hijau sehingga menciptakan sirkulasi udara alami dan mengurangi efek panas, juga dilengkapi solar panel untuk mendukung penggunaan energi terbarukan,“ ujarnya.
Pengusaha tersebut membaca umumnya individu atau investor mencari Canggu untuk membangun hunian atau bangunan komersil.
Sejak menjadi pusat tinggalnya wisatawan asing, digital nomad, ekspatriat, dan pelaku industri kreatif kawasan di Kuta Utara itu semakin berkembang.
“Harga tanah di Canggu tumbuh rata-rata 12–18 persen per tahun, dengan harga tanah hunian rata-rata dipasarkan Rp25–35 juta per meter persegi, sementara lahan komersil bisa tembus Rp40–60 juta per meter persegi tergantung lokasi dan aksesnya,” ujar Edy.
Akhirnya setelah memulai dengan 10 hektare nya, Edy Pangestu mendapat pembeli awal 61 unit tanah kavling untuk kebutuhan hunian.
Ia sendiri berani menaruh harga Rp1,8 miliar untuk satu kavling berukuran 120 meter, menandakan pasar dari tren bisnis baru ini ada.
Dari simulasinya, dengan seseorang atau investor membeli tanah, mereka dapat mengembangkan hunian atau usahanya sendiri dengan modal sesuai kemampuan namun di lokasi yang sudah terintegrasi dan di tepi jalan.
Dengan keuntungan lokasi dan infrastruktur pendukung maka perhitungannya dalam beberapa tahun maka modal tanah dan membangun akan balik modal bahkan berkali-kali lipat.
Di langkah awalnya ini, Edy melihat peminat kavling tanah di kawasan Canggu terdiri dari WNI dan WNA, namun untuk WNA ada proses tambahan seperti mengajukan hak sewa atau hak pakai sesuai regulasi.
Dengan mulai membentuk model bisnis baru di Canggu ini, selain memberi warna baru, ia berharap usahanya dapat ikut membantu pembukaan lapangan kerja dan peningkatan investasi di Bali.
Pewarta: Ni Putu Putri MuliantariEditor : Widodo Suyamto Jusuf
COPYRIGHT © ANTARA 2026