Denpasar (Antara Bali) - Mahasiswa Desain Komunikasi Visual ISI Denpasar memamerkan 65 karya berupa lukisan dan instalasi tiga dimensi bertema "Arttitude" di Denpasar Junction, Bali, selama enam hari hingga Minggu (21/2).
Wakil ketua panitia kegiatan tersebut Gung WS saat pembukaan pameran, Senin menjelaskan, "Arttitude" berasal dari kata "art" yang berarti seni dan "attitude" yang dimaksudkan sikap kerja atau kepribadian.
"Karya teman-teman yang kami pamerkan berupa lukisan di atas kanvas, poster dan istalasi tiga dimensi. Seluruhnya bermakna menyelamatkan bumi agar lebih baik," katanya.
Dikatakan, karya seni itu berangkat dari ide bahwa kenyataan belakangan ini kondisi bumi mengalami perubahan, baik secara fisik maupun nonfisik.
Berbagai isu bencana alam akibat ulah manusia terhadap lingkungan hidup, seperti terjadinya penebangan hutan, pembuangan limbah pabrik secara sembarangan, polusi tanah, air hingga menyebabkan pemanasan global.
"Karya yang kami pamerkan lebih menonjolkan ajakan umat manusia untuk mencintai alam, seperti rehabilitasi hutan, menjaga sumber air pengunungan hingga mengantsipasi pencemaran laut," katanya.
Gung WS mengatakan, selain pameran pihaknya juga menggelar lomba, antara lain lomba musikalisasi puisi, fotografi, 'low rider', lomba menggambar dan lomba poster.
"Pada kesempatan ini kami juga menggelar workshop dengan tema daur ulang kertas (recycle paper) dan 'brush' pada 'photoshop'," ujarnya.
Pameran "Arttitude" direncakanan digekar rutin dua tahun sekali, namun temanya disesuaikan dengan topik yang sedang berkembang.
"Topik dalam pameran berikutnya akan selalu berbeda-beda, tergantung permasalahan sosial kemasyarakat yang sedang hangat," kata Gung WS.
Sementara kurator pameran Jengo Paramartha mengatakan, tema yang diangkat untuk pertamakalinya ini cukup kreatif. Artinya pameran ini menjadi layak digelar di mal, tidak harus di tempat khusus seperti museum atau galeri.
"Dengan pameran di pusat perbelanjaan seperti ini menunjukkan ide yang kreatif dan mampu mensinergikan dengan produk yang dipasarkan oleh perusahaan yang ada di mal," katanya.
Menurutnya, ke depan ide pameran di pusat perbelanjaan maupun di kafe-kafe perlu dilakukan lebih banyak lagi. Dengan langkah ini dapat mendekatkan nilai seni dengan para pengunjung pusat pembelanjaan.
"Lihat saja di kota-kota besar, seperti Jakarta, maupun di Australia, Singapura dan kota besar di dunia lainnya, pameran semacam ini sangat sering dilakukan. Sebab seni tidak terbatas pada waktu dan ruang tertentu," kata Jengo Paramartha yang juga seorang kartunis.(*)
: Masuki
COPYRIGHT © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.