Denpasar (ANTARA) - Guru Besar Institut Seni Indonesia (ISI) Bali Prof Ida Ayu Trisnawati menilai rekonstruksi kesenian langka sudah mendesak untuk dilakukan.
Prof Trisnawati dalam Diskusi Budaya Kawiya Bali dalam rangkaian Pesta Kesenian Bali (PKB) XVIII Tahun 2026 di Denpasar, Senin, mengatakan merekonstruksi kesenian langka bukan sekadar menghidupkan kembali bentuk pertunjukan yang telah hilang.
Lebih dari itu, rekonstruksi merupakan proses akademik dan kultural untuk memahami kembali filosofi, struktur artistik, serta fungsi sosial budaya yang melatarbelakangi lahirnya kesenian tersebut.
“Rekonstruksi hal mendesak, ini adalah upaya menggali kembali makna, sejarah, dan konteks budaya yang melahirkan kesenian itu, jadi bukan hanya menampilkan ulang bentuk luarnya,” kata dia.
Usulan merekonstruksi kesenian langka sendiri muncul setelah ia melihat kesenian tradisional Bali menghadapi tantangan kemunduran bahkan kepunahan, di mana ia muncul tidak hanya disebabkan oleh modernisasi, tetapi juga perubahan fungsi sosial budaya masyarakat yang membuat sejumlah kesenian kehilangan ruang hidupnya.
Kondisi tersebut diperparah oleh minimnya dokumentasi yang memadai pada zaman lampau, sehingga banyak jejak sejarah kesenian Bali sulit ditelusuri kembali.
“Ketika mencoba mencari data dan dokumen kesenian yang pernah berkembang di Bali, ternyata banyak yang tidak lengkap, rentang dokumentasi dari tahun 1979 hingga sekarang masih menyisakan banyak kekosongan,” ujarnya.
Menurut dia, minimnya regenerasi menjadi persoalan paling krusial, meski pelestarian seni sudah melibatkan berbagai kelompok usia. Keterlibatan itu masih terbatas dan cenderung hanya muncul saat pementasan tertentu, akibatnya proses pewarisan nilai dan pengetahuan seni tradisi berjalan tidak optimal.
Guru besar tersebut menuturkan sejumlah kesenian sudah pernah direkonstruksi seperti Gambuh Pedungan yang kini telah diakui UNESCO, Wayang Wong Tejakula, hingga Arja Muani.
Namun demikian, tantangan baru muncul ketika kesenian langka yang telah berhasil direvitalisasi justru kembali tertidur setelah tampil dalam ajang tertentu.
Menurut Prof Trisnawati setidaknya ada enam hambatan utama rekonstruksi kesenian langka, yakni keterbatasan sumber data, minimnya regenerasi pelaku seni, perubahan fungsi sosial budaya, keterbatasan pendanaan, perbedaan interpretasi, serta dominasi kesenian populer yang lebih mudah menarik perhatian publik.
Untuk itu melalui diskusi PKB 2026 ini, akademisi itu berpendapat Bali perlu menghidupkan kembali program inventarisasi kesenian secara berkala agar perkembangan dan keberadaan kesenian langka dapat terus dipantau.
Wadah Pesta Kesenian Bali harus berkembang dari sekadar panggung pertunjukan menjadi pusat riset dan pengembangan kesenian tradisional, sebab selama ini banyak kesenian yang berhasil direkonstruksi dan tampil di PKB tapi kembali ke daerah asal dan kembali tertidur.
Ia juga mendorong pembentukan bank rekonstruksi kesenian Bali sebagai program jangka panjang, dimana melalui program tersebut, setiap tahun satu hingga dua kesenian langka dapat diteliti, direkonstruksi, didokumentasikan, dipentaskan, sekaligus diwariskan kepada generasi berikutnya.
Dosen Karawitan ISI Bali I Nyoman Mariyana menambahkan rekonstruksi kesenian langka harus dibangun melalui narasi, sejarah, dan mitologi yang hidup di tengah masyarakat.
Menurutnya kesenian tidak cukup diwariskan dalam bentuk praktik semata, tetapi juga harus disertai pemahaman terhadap makna filosofis dan historis yang melatarbelakanginya.
Pewarta: Ni Putu Putri MuliantariEditor : Ardi Irawan
COPYRIGHT © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.