"Kebutuhan janur yang dikenal dengan nama `busung` di Pulau Bali cukup tinggi, terlebih menghadapi hari raya keagamaan," katanya di Denpasar, Jumat.
Menurut dia, saat ini hampir 60 persen janur atau daun kepala muda yang menjadi bahan pembuat sarana upacara tersebut didatangkan dari luar terutama dari Pulau Jawa, Sulawesi hingga Sumatera.
"Ini berarti tata upacara secara Hindu diamati secara ekonomis tidak hanya menguntungkan warga Bali tetapi juga menguntungkan orang dari luar Bali," ujarnya.
Dikatakan, perhitungan ekonomi seperti ini akan lebih jelas bila tidak hanya ditonjolkan janur saja, tetapi masih ada material lainnya seperti bunga, buah dan lainnya. "Semua material tersebut sebagian besarnya berasal dari luar Pulau Dewata," katanya. (LHS/IGT)
Editor : Masuki
COPYRIGHT © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.