Denpasar (Antara Bali) - Pengembangan komoditi perkebunan di Bali masih menghdapi kendala, antara lain terbatasnya modal dan lemahnya kemampuan akses petani terhadap sumber permodalan dari perbankan dan lembaga keuangan lainnya.

"Padahal kucuran dana perbankan sangat diharapkan untuk mendorong pertumbuhan ekonomi, meningkatkan pendapatan dan kesejahteraan petani perkebunan," kata Kepala Dinas Perkebunan Provinsi Bali Ir Made Sudharta, MS di Denpasar, Rabu.

Ia mengatakan, untuk mengatasi kendala yang dihadapi petani itu, pihaknya memfasilitasi dengan perbankan untuk menyalurkan kredit dalam skala usaha mikro, kecil dan menengah.

"Kami menyadari usaha di sektor perkebunan dan pertanian pada umumnya mempunyai resiko cukup tinggi, karena dipengaruhi oleh alam dan berada di luar kendali manusia," ujar Made Sudharta.

Namun demikian, pengembangan usaha sektor perkebunan mempunyai keunggulan, karena berbagai jenis komoditi perkebunan mempunyai daya saing tinggi, bahkan mampu menembus pasaran ekspor.

"Komoditi vanili, kopi, kakao, jambu mete dan hasil perkebunan lainnya telah terbukti mampu meningkatkan taraf hidup dan pendapatan masyarakat," ujar  Made sudharta.

Pendapatan petani perkebunan di Bali hingga akhir 2009 mencapai Rp10,8 juta per tahun setiap kepala keluarga (KK) dari sasaran yang ingin dicapai Rp6,4 juta.

Hal itu didasarkan atas perhitungan atas komoditi kelapa, kopi, cengkeh, jambu mete, kakao dan tembakau verginia. Atas kenyataan itu Pemprov Bali bekerj asama dengan Bank Pembangunan Daerah (BPD) setempat mengucurkan dana untuk penguatan modal usaha kelompok (PMUK) sub sektor perkebunan.

Made Sudharta menjelaskan, PMUK tersebut hingga kini telah berkembang menjadi sebesar Rp9 miliar, guna mengatasi permodalan dalam pengolahan produksi pascapanen.

Dana yang dikucurkan tersebut awalnya hanya Rp4 miliar pada tahun 2008 dan Rp4 miliar pada tahun 2009, namun kini berkembang menjadi Rp9 miliar.

Kelompok-kelompok tani perkebunan yang memproleh kemudahan modal kerja berupa kredit itu selama ini pengembalian cukup lancar dan hampir tidak ada masalah.

Kemudahan dalam bentuk pinjaman kepada kelompok-kelompok tani perkebunan itu diharapkan bisa diberikan secara berkesinambungan dengan menamfaatkan dana yang telah dikembalikan oleh kelompok serta adanya penambahan flafon baru pada tahun 2010.(*)



: Masuki

COPYRIGHT © ANTARA 2026