Denpasar (Antara Bali) - Kapolda Bali Irjen Pol Sutisna mengharapkan setiap ATM yang terpasang di seluruh wilayah Pulau Dewata dapat dilengkapi dengan kamera CCTV.

"Kami harapkan pihak bank dapat melakukan itu, sehingga keberadaan tempat mengambil uang bagi nasabah tersebut akan menjadi lebih aman," kata Kapolda Sutisna di Denpasar, Senin.

Ia menyebutkan, dengan terpasangnya kamera CCTV senantiasa akan lebih menyulitkan para penjahat dalam melancarkan aksinya di ATM.

"Penjahat akan mengalami kesulitan, sebab segala gerak-geriknya akan termonitor oleh kamera tersebut. Salah-salah, ia dapat diringkus petugas," ucapnya.

Selain itu, dengan terpasangnya kamera CCTV juga akan lebih memudahkan polisi dalam upaya melacak setiap pelaku kejahatan yang beroperasi di ruang ATM.

Lewat gambar yang berhasil direkam CCTV, polisi akan lebih mudah dapat mengenali ciri-ciri tubuh bahkan identitas dari para pelaku kejahatan, katanya.

Menurut Kapolda, sebagian besar dari ATM yang tersebar di Pulau Dewata diketahui tidak dilengkapi kamera yang dapat merekam gambar itu.

Akibatnya, lanjut dia, begitu terjadi aksi pembobolan uang nasabah lewat ATM, pihaknya begitu kesulitan untuk mendapatkan ciri-ciri awal dari para pelakunya.

Selain kesulitan dalam mendeteksi ciri pelaku, katanya, kendala lain juga ditemukan di lapangan, yakni tidak adanya pihak bank yang bersedia memberikan data mengenai tindak kejahatan itu.

"Maksud kami ya bukan data yang terkait dengan masalah perbankan, melainkan data yang ada hubungannya dengan tindak kejahatan tersebut. Namun apa, ya sulit juga mereka memberikannya," ucapnya.

Menurut dia, karena adanya beberapa keterbatasan itu, pihaknya menjadi tidak bisa bekerja dengan lebih cepat. Kendati demikian, Sutisna mengaku optimistis kasus tersebut dapat dibongkar.

"Kami pikir hanya butuh waktu cukup lama untuk dapat membongkar tuntas aksi kejahatan terkait dunia perbankan itu," katanya.

Ditanya tentang telah dibidiknya beberapa calon tersangka, Kapolda Sutisna mengatakan tinggal menunggu hasil pengembangan di lapangan.

Mengenai jumlah nasabah yang telah menjadi korban, Kabid Humas Polda Bali Kombes Pol Gde Sugianyar menambahkan, berdasarkan laporan yang masuk ke jajarannya, terhitung sebanyak 46 nasabah dengan jumlah kerugian sekitar Rp1 miliar.

Dana sebesar itu dibobol dari 15 ATM milik sejumlah bank yang tersebar di beberapa daerah Pulau Dewata.

Sementara pihak Bank Indonesia (BI) Denpasar mengungkapkan bahwa nasabah yang telah menjadi korban mencapai sekitar 200 orang dengan jumlah dana yang mencapai Rp2 miliar.

Menanggapi itu, Kombes Sugianyar mengatakan, bisa saja terjadi perbedaan masalah jumlah korban dan dana yang telah dikeduk penjahat.

"Masalahnya, korban yang melapor ke BI belum tentu juga melakukan pengaduan serupa ke jajaran Polda Bali," katanya.(*)


: Masuki

COPYRIGHT © ANTARA 2026