Jakarta (Antara Bali)  - Anggota Komisi X DPR RI Herlini Amran menilai uji publik kurikulum 2013 kurang ideal karena hasilnya bertolak belakang dengan respon masyarakat terhadap rencana Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan mengimplementasikan sistem ajaran perubahan tersebut.

"Saya menilai pelaksanaan uji publik ini kurang ideal, karena faktanya kebanyakan justru tidak setuju terhadap pergantian kurikulum 2013 ini. Akan tetapi, saya sangat takjub dengan hasil survei atau polling yang angka-angkanya begitu mendukung implementasi Kurikulum 2013 dari pemaparan Mendikbud," kata Herlini melalui pesan singkat kepada ANTARA, Minggu.

Menurut Herlini, Komisi X telah melakukan rapat kerja dengan Mendikbud M. Nuh pada Kamis 10 Januari lalu. Pada saat itu Kemendikbud memaparkan hasil uji publik kurikulum 2013.

Herlini mengatakan Kemendikbud telah memaparkan uji publik melalui dialog tatap muka dan virtual walaupun masih dipertanyakan validitasnya. Namun cara ketiga yakni uji publik secara tertulis yang bahannya dikirimkan ke perguruan tinggi dan lembaga kemasyarakatan serta pemerhati pendidikan, tidak dipaparkan hasilnya.

"Saya mempertanyakan ke Menteri dan meminta disampaikan pada panja kurikulum yang masih berjalan. Intinya Komisi X mendukung perubahan kurikulum pendidikan untuk perbaikan mutu dan kualitas pendidikan di Indonesia, namun harus berdasarkan hasil evaluasi kajian dan riset yang komprehensif," ujarnya.

Herlini mengatakan bahwa dirinya sukar mempercayai validasi dari uji publik tersebut, lantaran tidak mengetahui proses dan metode pelaksanaannya.(LHS)



: Masuki

COPYRIGHT © ANTARA 2026