"Laut di sekitar Indonesia saat ini cukup hangat, lebih hangat dua derajat dari rata-rata. Itu berarti penguapan lebih massif yang menjadi sumber pembentukan awan," kata Deputi Bidang Sains, Pengkajian dan Informasi Kedirgantaraan Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional Prof Dr Thomas Djamaluddin di Jakarta, Rabu.
Seberapa ekstremnya, menurut dia, bisa dilihat dari peta angin yang menunjukkan adanya daerah tekanan rendah di Selatan Nusa Tenggara dengan tekanan sekitar 998 mbar (millibar), lebih rendah dari rata-rata yang sekitar 1.013 mbar.
Daerah tekanan rendah itu berpotensi menimbulkan pusat badai (siklon) tropis yang menyedot udara di sekitarnya dan berpotensi menimbulkan angin kencang, tambahnya, dimana data menyebut kecepatannya saat ini sekitar 40 knot (80 km/jam).
"Buktinya badai yang dinamai Narelle telah terbentuk di Selatan Nusa Tenggara. Badai itu akan bergerak ke arah Barat menuju Selatan Jawa, sebelum akhirnya melemah dan hilang," katanya.
Karena pusat badai adalah daerah tekanan rendah, maka udara di sekitarnya disedotnya, ujarnya, sehingga menimbulkan angin kencang yang berdampak pada terjadinya gelombang tinggi di laut sekitar pusat badai.
Jadi, laut di sekitar Nusa Tenggara, Jawa, dan Sulawesi berpotensi kena dampaknya dengan gelombang tinggi, dengan ketinggian gelombang 2-6 meter, ujarnya. (*/ADT/T007)
Editor : Nyoman Budhiana
COPYRIGHT © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.