"Kondisi tingkat hunian kamar hotel pada liburan akhir tahun ini masih jauh dari harapan. Kondisinya jauh berbeda dengan akhir tahun lalu, hampir semua hotel penuh," kata Ketua PHRI Denpasar Ida Bagus Gede Sidharta Putra di Sanur, Minggu.
Menurut pelaku pariwisata yang akrab disapa Gusde itu, hal yang mempengaruhi penurunan okupansi hotel diantaranya krisis Eropa yang menyebabkan menurunnya kunjungan wisatawan asal kawasan tersebut, seperti dari Spanyol, Italia, dan Yunani, berkisar 20-25 persen.
"Bahkan kunjungan wisatawan Australia yang selama ini dikenal loyal memilih berlibur ke Bali, juga turun berkisar 20-25 persen. Ini menyedihkan," ujarnya seraya menyebutkan, mereka banyak yang mengalihkan kunjungan ke Thailand dan Amerika Serikat.
Banyaknya wisatawan Australia yang tidak lagi loyal berkunjung ke Bali, dipicu oleh depresiasi mata uang dolar Amerika Serikat terhadap dolar Australia. "Semakin membaiknya nilai tukar dolar Australia itu membuat sebagian warga Negeri Kangguru tersebut memilih berlibur ke destinasi lain," ucap Gusde.
Sedangkan penyebab internal, menurut dia, adalah banyaknya tambahan kamar dengan dibangunnya hotel-hotel baru di berbagai kawasan di Denpasar disertai ketatnya persaingan tarif sarana akomodasi tersebut.
"Munculnya banyak hotel baru dengan tarif murah itu turut menurunkan daya tarik bagi wisatawan, karena kondisi bangunannya umumnya minimalis, tidak lagi menonjolkan arsitektur berseni khas Bali yang selama ini dikagumi turis," kata pengelola Griya Santrian itu.
Gusde berharap pemerintah memperketat perizinan hotel baru dengan memperhatikan daya dukung lingkungan agar ke depan tidak menjadi masalah, mensyaratkan penerapan arsitektur Bali, selain mempertimbangkan kondisi pasar kunjungan wisatawan.
Terkait prediksi 2013 yang kurang menguntungkan, dia selaku Ketua PHRI Denpasar mengajak para pelaku pariwisata untuk meningkatkan kualitas layanan dan membenahi produk agar lebih menarik. (T007)
: Nyoman Budhiana
COPYRIGHT © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.