Denpasar (Antara Bali) - Suasana alam lingkungan pedesaan itu masih tampak lestari dan menghijau, meskipun hamparan lahan sawah semakin menyempit, akibat alih fungsi lahan untuk lokasi pembangunan.
Tuka sebuah banjar (Dusun) di wilayah Desa Dalung, Kecamatan Kuta Utara, Kabupaten Badung yang berjarak sekitar 15 km barat laut Kota Denpasar, dalam beberapa tahun belakangan muncul kompeks pemukiman baru.
Perumahan yang dibangun kontraktor dengan fasilitas kredit bank itu tetap bernaung ke Banjar Tuka yang penduduknya lintas agama, selama ini mereka hidup rukun, damai, tentram, berdampingan satu sama lainnya.
Dari sekitar 800 kepala keluarga (KK) penduduk banjar tersebut mayoritas beragama Kristen yang tetap memegang teguh rasa kebersamaan, kesetiakawanan sosial dan saling membantu dalam kehidupan sehari-hari.
"Di tengah memudarnya rasa kebersamaan akibat kehidupan yang semakin modern, pengaruh perkotaan dan globalisasi itu, masyarakat Banjar Tuka, justru rasa kesetiakawanan sosialnya tetap melekat di hati sanubari masing-masing," tutur Ketua Dewan Gereja Paroki Tritunggal Mahakudus Tuka, Ketut Jack Mudastra.
Rasa kebersamaan dan saling membantu itu tercermin dalam sikap gotong royong dan saling membantu dalam kehidupan sehari-hari, tanpa melihat latar belakangan kepercayaan dan agama yang dianut di antara mereka.
Gotong royong dan kebersamaan itu termasuk dalam menggelar kegiatan adat dan ritual (hajatan), baik pada tingkatan rumah tangga maupun desa adat (pekraman).
Jika ada umat Hindu yang meninggal dan dilanjutnya dengan melaksanakan upacara pengabenan, warga Nasrani secara aktif ikut ambil bagian untuk membantu kelancarannya.
Demikian pula untuk persiapan Natal dan kegiatan lainnya yang dilakukan umat Kristiani, sepenuhnya mendapat dukungan dan bantuan dari umat Hindu di wilayah banjar tersebut.
"Pendeknya segala sesuatu yang berbau adat dan keagamaan kita kerjakan secara iklas dan bersama-sama," ujar Ketut Jack Mudastra yang juga tokoh masyarakat setempat.
Celengan
Panitia perayaan Natal Gereja Paroki Tritunggal Mahakudus Tuka dalam mengumpulkan dana sosial menjelang perayaan Natal dilakukan dengan menyebarkan sekitar 500 buah "celengan" kepada warga setempat.
Tempat khusus penyimpanan uang yang disisihkan dari belanja sehari-hari dalam lingkungan rumah tangga itu telah diserahkan sebulan yang lalu dan disetor kembali H-3 Hari Raya Natal.
Ketut Jack Mudastra menuturkan, pola pengumpulan dana untuk kegiatan sosial lewat "celengan" yang baru pertama kali dirintis, mengganti pola sebelumnya dalam bentuk amplop.
"Celengan, tempat uang yang dibuat secara khusus dalam kondisi terkunci, yang kuncinya dipegang oleh panitia. Umat menyisihkan sebagian kecil penghasilan, atau menghemat dari pengeluaran setiap harinya untuk kegiatan sosial, baik intern maupun antarumat.
Panitia setelah menerima kembali "celengan" dari warga masyarakat itu selanjutnya membuka bersama-sama, tanpa mengetahui identitas setoran celengan tersebut.
Dalam pengumpulan dana sosial itu tetap menekankan rasa kebersamaan dan kesetiakawanan sosial untuk saling membantu satu sama lainnya.
Panitia menjelang dan sesudah Hari Raya Natal melakukan kegiatan sosial antara lain mengunjungi dan memberikan bingkisan kepada orang lanjut usia, masyarakat miskin, orang sakit, janda, duda dan orang cacat dalam lingkungan intern Banjar Tuka.
Selain itu juga melakukan kunjungan sosial ke panti asuhan dan lembaga pemasyarakatan (Lapas) Denpasar yang dilakukan secara berkesinambungan pada momentum Hari Raya Natal.
Kegiatan yang bersifat insidentil lainnya juga dilakukan jika ada warga yang mengalami musibah yang memerlukan bantuan dan uluran tangan. Kegiatan sosial itu juga berlaku untuk membantu meringankan beban warga di luar Banjar Tuka, baik tingkat Kabupaten, Bali maupun nasional.
Kebersamaan dan rasa kesetiakawanan sosial itu juga tercermin mengirimkan kue, masakan dan buah-buahan kepada tetangga non Kristen pada momentum Hari Raya Natal.
Sebaliknya warga yang beragama Hindu membalas pemberian itu pada momentum Hari Raya Galungan, hari kemenangan Dharma (kebaikan) atas Adharma (keburukan) yang dirayakan setiop 210 hari sekali.
Tradisi saling memberi dan saling membantu dalam kebersamaan yang rukun dan harmonis diwarisi dari leluhurnya yang diharapkan dapat dipelihara dan ditingkatkan pada kehidupan di masa-masa mendatang, harap Ketut Jack Mudastra, pensiunan pegawai negeri sipil (PNS). (*/T007)
Editor : Nyoman Budhiana
COPYRIGHT © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.