Bandarlampung (Antara Bali) - Pengarang di Indonesia membahas perlunya organisasi bagi profesi ini, baik untuk posisi tawar, advokasi, sekaligus membangun kekuatan.

Benang merah hal tersebut mengemuka dalam persidangan Pertemuan Pengarang Indonesia (PPI) di Makassar, seperti dikatakan sastrawan Lampung Isbedy Stiawan ZS saat dihubungi dari Bandarlampung, Selasa, meskipun masih terjadi kontroversi, setuju atau tidak setuju atas wacana itu.

Menurut dia, pada sidang bertema internal sastra di Komisi II (internal sastra) yang dihadiri Leon Agusta, Sosiawan Leak, Anwar Putra Bayu, Bakdi Sumanto, Kurniawan Junaedhi, Adek Alwi, Dorothea Rosa Herliany, Mardi Luhung, Bandung Mawardi, dan Beni Setia, Veven Sp Wardana mengemuka kebutuhan adanya organisasi bagi para pengarang di Indonesia itu.

Pimpinan sidang di komisi ini yang dipercayakan kepada Gus tf dan Puthut EA mengurai permasalahan kelemahan, kekuatan, dan ancaman bagi sastrawan dan karya sastra.

Isbedy yang terlibat di komisi internal sastra ini, "pertarungan" antara perlu atau tidak sebuah organisasi pengarang sangat mengemuka.

Berbagai contoh dilontarkan, seperti tidak berjalan ASI (Aliansi Sastrawan Indonesia) yang ditelurkan pada Temu Sastra Indonesia I di Jambi maupun KCI (Komunitas Cerpen Indonesia) yang dilahirkan saat Kongres Cerpen Indonesia di Banjarmasin.

"Termasuk Dewan Kesenian Indonesia yang digagas pada Kongres Dewan Kesenian se-Indonesia di Papua tahun 2005. Ternyata rekomendasi yang dibawa kepada pemerintah lalu menguap begitu saja tanpa tindaklanjutnya. Sampai kini Dewan Kesenian Indonesia itu tidak pernah ada," kata Isbedy. (LHS/T007)



Editor : Nyoman Budhiana

COPYRIGHT © ANTARA 2026