"Bila tidak segera dibenahi, maka pada 2025 kota-kota di Indonesia akan semrawut dan kalah dengan pengembangan sistem perkotaan di berbagai negara di dunia," kata Menteri PU Djoko Kirmanto di Sanur, Bali, Senin.
Pada seminar nasional bertajuk "Identitas Kota-Kota Masa Depan di Indonesia" itu, ia mengatakan, secara global dalam 25 tahun terakhir, yaitu tahun 1980 hingga 2004 jumlah penduduk urban di dunia telah meningkat dua kali lipat.
Pada 2008 mayoritas 6,6 miliar penduduk dunia tinggal di kota besar maupun kota kecil dan melebihi penduduk yang tinggal di desa. Kondisi ini akan terus berlanjut selama beberapa tahun.
"Tahun 2030 seluruh pertambahan penduduk dunia yang diperkirakan mencapai 1,5 miliar berasal dari kawasan perkotaan. Jumlah penduduk Indonesia yang tinggal di kota saat ini sudah melebihi kapasitas infrastruktur, peluang dan daya dukung lingkungan," ujarnya.
Dengan demikian, lanjut Djoko, kondisi ini menyebabkan munculnya pemukiman kumuh, ketimpangan sosial, degradasi kualitas lingkungan hidup akibat polusi, kemacetan lalu lintas, penurunan tingkat pelayanan utilitas dan sebagainya.
Menurutnya, beberapa tantangan pengembangan pembangunan perkotaan di Indonesia antara lain, pertumbuhan dan perluasan fisik kota yang semakin tidak terkendali dan menjurus kepada penggabungan beberapa kota besar di Indonesia.
Hal ini menyebabkan alih fungsi lahan produktif yang tidak terkendali, jaringan infrastruktur yang tidak memadai sehingga mengakibatkan inefisiensi pelayanan publik, lalu lintas macet, polusi udara dan pencemaran lingkungan hidup meningkat.
Selain itu kualitas lingkungan hidup menurun, kenyamanan lingkungan perkotaan terancam. Hal tersebut tampak dalam ruang terbuka hijau (RTH) di kawasan perkotaan menurun.
"Dalam kurun waktu 30 tahun terakhir, proporsi RTH terhadap kawasan perkotaan metropolitan seperti Jakarta, Bandung, Surabaya, Medan telah berkurang dari 35 persen," ucapnya.
Dikatakan, kota di Indonesia idealnya tidak hanya diperlakukan sebagai objek investasi dan wadah proses pertumbuhan ekonomi, tetapi harus juga dikembangkan menjadi rumah bagi para penduduknya.
"Saat ini kota di Indonesia hanya dijadikan sebagai obyek investasi sehingga terjadilah kepadatan penduduk serta munculnya pemukiman kumuh," katanya. (*)
: Masuki
COPYRIGHT © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.